Uncategorized

​Lulusan Perguruan Tinggi Cuma Jadi Ibu Tangga, Why Not? 

Komentar ini sering saya dengar sekarang setelah saya pindah profesi menjadi ibu rumah tangga (ibu RT) alias full time house wife (FTHW) atau full time mom (FTM). Padahal sebenernya saya sekolah juga gak tinggi-tinggi amat sih, cuma S2. Di luar sana banyak juga kan ibu rumah tangga yang lulusan S3 bahkan bertitel profesor. 

Komentar lain yang sering saya dengar adalah, “Sayang ya, kerja enak-enak kok ditinggal, terus jadi di rumah aja?” Hm.. apa kerja itu selalu enak? Ya bisa jadi tidak juga. Sama seperti semua profesi lainnya, apapun juga pasti ada enak dan tidak enaknya. Pekerjaan terakhir saya sebagai asisten Notaris memang menawarkan gaji yang lumayan plus lingkungan kerja yang menantang dan menyenangkan ditambah pengalaman untuk belajar hal-hal baru setiap harinya. 

Saat bertemu dengan teman-teman orang tua komentarnya lain lagi, “Dulu kan juara kelas kok sekarang cuma di rumah saja?” Hari gini prestasi tidak hanya diukur dengan rangking di kelas (apalagi rangking saat SD) hehe.. Intinya, saya merasa bahwa saat ini dalam masyarakat kita berkembang pemikiran bahwa wanita berpendidikan semestinya bekerja di luar rumah, mendapat penghasilan dan karier. Mungkin hal itu didorong oleh kondisi ekonomi yang semakin berat, biaya hidup dan pendidikan yang meningkat tajam sehingga keluarga dengan dua sumber penghasilanlah yang dianggap lebih ideal.

Berbeda dengan dua puluh sampai tiga puluh tahun yang lalu jaman saya masih kecil dan notabene ditinggal bekerja juga oleh ibu saya. Saya dilahirkan dan dididik oleh ibu bekerja. Iya mama saya seorang pekerja dan di rumah tidak ada asisten rumah tangga. Mama menyiapkan semua keperluan anak-anaknya sebelum berangkat ke kantor, membangunkan kami untuk shalat dan membantu menyiapkan keperluan sekolah kami dan pekerjaan yang akan dibawa ke kantor. 

Saya memang sempat merasa kehilangan sosok mama saat beranjak remaja. Meskipun saya tahu saat saya bertumbuh, mama pasti pontang panting jungkir balik mengorbankan banyak hal keinginan dirinya dan berjuang untuk bisa tetep mendidik anak-anaknya. Maka saat saya sekarang mempunyai anak barulah terbayang betapa repotnya mama saat mengurus kami kecil dulu. Sejak saat itu saya berjanji dalam hati kelak jika saya juga menjadi ibu, saya ingin menjadi ibu yang bisa menggenggam hati anak-anak saya, menemani tumbuh kembangnya dan selalu dirindukan kehadirannya, bahkan dirindukan masakannya jika mereka jauh dari saya. 

Dunia memang berkembang dengan globalisasi dan sebagainya. Berbagai asumsi dan persepsi akan berubah, termasuk persepsi tentang seorang Ibu. Sebetulnya, apa sih yang membuat banyak persepsi negatif tentang ibu rumah tangga sekarang?

Apa karena asumsi bahwa ibu RT itu identik dengan penikmat sejati sinetron? Sebetulnya tidak juga. Banyak teman saya yang (murni) ibu rumah tangga yang justru sangat selektif dengan kualitas tayangan televisi.

Apa karena ibu RT biasanya berkonotasi doyan belanja? Mungkin beberapa. Tapi banyak yang lainnya merupakan pengelola utama keuangan keluarga yang dengan berbagai strategi finansial cerdas bisa memenuhi kebutuhan logistik keluarga.

Atau karena ibu RT identik dengan ke-tidak-produktifan secara finansial? Padahal menjadi ibu rumah tangga adalah profesi yang berat. Setidaknya, itu menurut saya yang tidak memiliki asisten. Bayangkan, dari subuh hingga malam harus stay tune, menyiapkan makanan untuk keluarganya, mengurus dan mendidik anak-anak, memastikan rumah nyaman, baju-baju bersih dan tersetrika, piring dan lantai bersih, tagihan rutin terbayar, kebutuhan dapur tersedia dan banyak lagi. Apalagi saat anak-anak masih sangat kecil atau sedang sakit. Pekerjaan yang tidak ada habisnya di siang hari harus ditambah dengan bergadang di malam hari.

Bagaimana jika dibalik, berapakah harga semua tugas yang dilakukan ibu RT itu jika dirupiahkan? Dan, apakah produktifitas hanya diukur secara materi? Bukankan sumbangan waktu, pikiran, dan energi yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain juga adalah hasil dari seseorang yang produktif? 

Dan, apakah ada reward untuk semua pekerjaan rutin itu? Saat semua baik-baik saja, itu memang seharusnya (baca: tidak ada reward), tetapi saat ada masalah baru terlihat kesalahan dan ketidaksempurnaannya.

Siapakah yang menanggung beban moral paling berat saat ada masalah di rumah? Anak yang belum beres toilet training atau suami yang sakit? Siapa yang paling pusing saat anak sulit makan, mendadak agresif dan tantrum tidak jelas. Anda tahu jawabannya? 
Saya tidak mengeluh hanya rasanya tidak adil jika profesi sebagai benteng rumah tangga, dan bertanggung jawab atas jiwa-jiwa muda yang berkembang, dengan kewajiban menyediakan rumah yang menjadi pelabuhan nyaman keluarga dilecehkan dengan kata-kata “oh cuman jadi ibu rumah tangga”.

Lagipula, menurut saya ibu RT atau bukan juga tergantung pilihan dan kesempatan. Tidak semua orang beruntung, bisa mendapat kesempatan yang sesuai dengan pilihannya. Banyak sekali ibu RT yang ‘terpaksa’ memilih profesinya karena berbagai keterbatasan.

Hidup ini pilihan. Memang takdir ditentukan oleh Allah, dan kita tidak bisa memilih. Dalam hal kelahiran dan kematian kita tidak bisa memilih. Dari orang tua yang mana kita akan dilahirkan, kita pun tidak bisa memilih. Namun, kita bisa memilih tujuan hidup kita, apakah mau hidup bergembira atau bersedih, hidup dengan pandangan positif atau negatif, hidup dengan penuh optimis atau pesimis. Kita semua bisa membuat pilihan dan keputusan apakah akan hidup penuh arti atau tanpa arti. Nasib ada di tangan kita sedangkan takdir di tangan Allah. Karena hidup adalah sebuah pilihan, terlepas dari kelebihan dan kekurangannya dari pilihan menjadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja. Tapi alangkah baiknya jika seorang ibu tahu apa yang menjadi prioritas dalam hidupnya sehingga mampu memilih dengan bijak. Oleh karena itu, seorang ibu dituntut untuk cerdas terlepas dia bekerja atau tidak karena seorang ibulah yang akan menjadi madrasah pertama kali bagi anak-anak mereka. Beruntunglah para wanita yang dapat menemukan passion mereka sedini mungkin sehingga bisa mengantisipasi langkah-langkah yang akan mereka ambil kelak dalam berumah tangga. Mungkin dengan mencari pekerjaan kantor yang lebih fleksibel, membuka usaha atau mencari peluang lain yang lebih bisa memaksimalkan waktu bersama keluarga?

Saat keadaan membuat kita dalam posisi ibu bekerja maupun ibu rumah tangga, berbuatlah sebaik-baiknya. Karena apapun yg kita tanam akan kita tuai kelak. Berproses dalam hidup itu tidak sekali tidak juga dua kali. Rahasia Allah yang mengharuskan kita untuk selalu hati-hati dalam setiap mengambil keputusan. Lalu, kemudian Ikhlas terhadap setiap ketetapanNya. Ikhlas itu begini : kau rawat kepompong hingga menjadi kupu-kupu, meski tahu bahwa semua yang bersayap pasti akan terbang.

Iklan

Satu tanggapan untuk “​Lulusan Perguruan Tinggi Cuma Jadi Ibu Tangga, Why Not? ”

  1. Udaah biarin aja ibu-ibu lain yang nyinyir… Itu tandanya mereka merasa rendah diri dari orang yang dinyinyirin. Jadi ibu rumah tangga tentu hebat dong, nggak akan terlewat tunbuh-kembang si kecil yang berharga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s