​TENTANG MEMAKSA

(Titik Balik Penyembuhan Innerchild) 

Saya baru tau mengenai innerchild sejak membaca tulisan ibu Elly Risman akhir tahun kemarin. Setelah membaca tulisan beliau ingatan saya pun melambung jauh kembali ke masa beberapa tahun yang lalu saat saya masih kecil. Saat dimana saya sedang bertumbuh dan sering merasa terluka. Saya akui hati saya sedikit banyak terluka dan terbawa hingga sekarang. Kenapa bisa begitu? Saya anak perempuan pertama dan papa saya mendidik dengan gaya otoriter serta kedisiplinan tingkat tinggi, mama saya pun sering memukul atau membanting barang-barang di rumah saat marah, bahkan tidak segan mencubit saya jika saya melakukan kesalahan. Semua kenangan ini mengingatkan saya untuk tidak memaksakan kehendak saya ke anak-anak saya, sekecil apapun bentuknya janji saya dulu saat belum mempunyai anak. Memaksakan kehendak itu gak harus untuk suatu hal yang besar seperti memilih sekolah, jurusan kuliah atau pilihan berkarier saja. Memaksa anak mandi, makan, tidur, atau aktivitas keseharian lain tanpa memperdulikan perasaan dan kemauan anak juga bentuk memaksa. Dan ini mungkin pernah saya lakukan jika sedang lelah, perasaan menyesal pasti berkecamuk di dada. 

Saya pernah memaksanya mandi pagi-pagi mengikuti kebiasaan saya meski dia masih ingin bersantai sejenak sehabis bangun tidur yang kemudian berakhir dengan tangisannya. 
Saya pernah memaksanya tidur padahal masih asyik bermain, hanya agar saya bisa segera menyelesaikan pekerjaan dapur dan membersihkan rumah. 
Saya pernah menargetkannya menghafal Surat pendek hanya karena melihat kawannya sudah lancar melafalkan ayat-ayat quran. Sampai kemudian saya sadar Faris sedang butuh suasana baru dalam belajar, sedang ingin mencoba bereksperimen dengan mainan barunya. 
Saya bahkan memaksakan kehendak saya saat menemaninya belajar angka padahal dia belum ingin belajar itu atau mungkin dia lebih senang belajar bentuk benda bahkan belajar dengan metode bermain sambil melompat khas anak seusianya. 
Melihatnya, hati kecil saya menegur bahwa yang saya lakukan adalah sebuah pemaksaan, sekecil apapun bentuknya. Lalu mulailah saya menyadari kebiasaan memaksakan kehendak pada anak saya. 
Astagfirullah. Tanpa saya sadari, pemaksaan demi pemaksaan yang saya terima selama 23 tahun sebelum saya menikah telah mengendap sedemikian rupa hingga memengaruhi pola asuh saya. Semua segi kehidupan saya dari kecil diatur mulai dari pilihan sekolah, pilihan jurusan kuliah, pilihan berteman, pilihan kegiatan, bahkan hingga pilihan fashion, dan sesuatu yang remeh temeh lainnya.
Saya tahu bagaimana tidak enaknya dipaksa dan tak dihargai aspirasinya, tak didukung keinginannya, dan tak diberi ruang mengompromikannya. Karena itulah saya sedih saat menyadari saya justru hampir saja mewariskannya ke Faris. Dan kini saya bertekad keras untuk benar-benar menyembuhkannya. 
Alhamdulillah, sebagaimana setiap penyakit telah Allah sediakan obatnya, begitulah Allah mengirim suami saya sebagai perantara penyembuhan ‘penyakit’ saya. Dengan lembut dan penuh hikmah dia tunjukkan bagaimana caranya bernegosiasi dan berkompromi dengan Faris.  Agar segala hal yang memang harus dilakukannya tetap bisa dia kerjakan tanpa merasa dipaksa. 
Barangkali suami saya menganut apa yang pak Dodik, suami bu Septi, bilang, 
“It’s not what you SAY, it’s HOW you say that creates power.”
Maka, dengan ‘isi’ yang sama, suami saya menyontohkan cara penyampaian yang berbeda. 
Alih-alih memaksa Faris mandi, dia mengajaknya memandikan mobil mainannya, atau mengajaknya bermain tembakan air sambil bersorak, atau memancing ikan maenannya, atau ajakan lain yang lebih halus dan disenanginya. 💜
Alih-alih memaksa Faris merapikan mainan dan buku-bukunya, dia menunjukkan cara lain yang lebih asyik, yaitu mengajak Faris memarkir mobil-mobilannya sambil bercerita dan mulai mengajaknya memungut mainan dan buku-bukunya ke tempat semula. Atau bermain peran sebagai anak baik yang menjaha kebersihan seperti yang ada di buku berjudul Aku Bisa Merapikan Mainan Sendiri. Atau balapan menaruh buku di tempatnya sambil bercanda tawa. 💜
Alih-alih memaksakan Faris bermain sesuai instruksi, dia membiarkan Faris memilih mainan yang ingin dimainkan dengan caranya sendiri. Tak harus  terkungkung fungsi asli mainan itu sendiri. Tak perlu saklek, apalagi memaksa memenuhi target pencapaian yang tinggi. Yang penting bisa quality time sekeluarga dan bisa menyenangkan hati. 💜
Alih-alih memaksa Faris tidur, dia akan membuat bayangan dengan tangan dan mengobrol dengan bayangan hewan-hewan yang nampak di dinding kamar sehingga menarik Faris untuk masuk kamar. Atau bermain jam tangan transformernya yang apabila disorot ke dinding akan muncul berbagai macam gambar. Kemudian dia akan mengajak Faris bermain ‘Rebutan Mama’, yang sangat saya sukai karena mereka akan memperebutkan saya dengan penuh tawa. Lalu begitu Faris menang (dimenangkan), maka hap, langsung bisa berangkat tidur dengan sukarela (menata posisi dan berdoa tanpa diinstruksi) . 💜
Tentang hafalan Alquran dan macam ibadah lainnya, suami wanti-wanti untuk tidak menargetkan Faris dengan apapun di usia balitanya. Dia ingin di 5 tahun pertamanya lebih banyak dikenalkan ayat-ayat keagungan, kebesaran, kemurahan, dan nikmat-nikmatNya sehingga akan timbul rasa cinta pada Rabbnya. Dia tidak ingin membebani Faris dan saya sendiri dengan target harus bisa baca Quran selagi balita, atau hafal berapa surat di juzz amma atau ibadah lainnya. Biarlah ayat-ayat Allah meresap dalam jiwanya dengan cara yang menyenangkan hatinya. Lantunkanlah ayat-ayat di depannya tapi jangan paksa dia menghafalkannya. Ajarkanlah dia huruf-huruf hijaiyyah dan mengaji dengan penuh cinta tanpa target yang harus dicapainya. Lima tahun pertamanya benar-benar harus diisi dengan penuh cinta, termasuk saat mengajarkannya mencintai Rabbnya. 
Begitulah yang terus dia lakukan dan tunjukkan. Dia ingin Faris melakukan kebiasaan baik bukan karena paksaan, tapi memang karena kesenangan. Maka, sekarang, saat saya hampir akan memaksakan kehendak, saya segera ingat, lalu berhenti sejenak, memutar otak mencari cara lain yang lebih menyenangkan. Mengadaptasi segala hal yang suami saya contohkan. 
Dan masya Allah tabarakallah, memang hasilnya lebih menyenangkan saat saya mau bernegosiasi dan berkompromi dengan keinginannya. Membuatnya melakukan kebaikan tanpa paksa. Membuatnya mematuhi yang saya perintahkan tanpa drama. 
Memang bukan hal yang mudah melakukannya. Butuh banyaak sekali latihan dan kesabaran mengontrol rasa ingin memaksa. Tapi saya kemudian ingat memori masa kecil saya dan tidak ingin Faris merasakan hal yang sama. Saya juga ingat bahwa saya sudah punya modal penyembuhan utama, yaitu ke-SADAR-an punya bakat memaksa. Maka, alhamdulillah, perlahan-lahan, saya mulai bisa mengikuti apa yang dicontohkan suami saya. 
Prinsip sederhananya, sebelum meminta anak berbuat sesuai keinginan kita, bonding yang kuat harus terlebih dulu tercipta. Bangun kedekatan dengan anak kita, maka apapun yang kita katakan akan terdengar manis untuk diikutinya. Bangun suasana hangat penuh cinta, maka kita akan dengan mudah mengarahkannya. Bangun komunikasi yang mudah diterimanya, maka perintah pun terasa ringan dilakukannya. 
Ingat-ingat lagi prinsip komunikasi ala pak Dodik. 
“It’s not WHAT you say. It’s HOW you say it that creates power.” 
Ya. Yang penting bukanlah APA yang kita katakan, tapi BAGAIMANA kita menyampaikannyalah yang menentukan keberhasilan komunikasi kita. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s