arisantulisan, Family, Shar-3

Dipersiapkan untuk Lebih Kuat

Bismillah…edisi perdana arisan tulisan di rumah belajar menulis IIP Batam saya yang menentukan tema tulisan dan saya memilih tema ‘the best of me’. Pengalaman hidup yang (semoga) menginspirasi dan bisa saya ambil ibrohnya. Kali ini saya ingin berbagi tentang sosok lelaki yang sangat amat berpengaruh di dalam hidup saya. Mungkin, coretan ini terkesan sangat amat pribadi tetapi saya takut apabila kisah saya hanya tercatat di otak maka sewaktu-waktu bisa terkikis hilang seiring waktu. Ini adalah kisah seorang pria yang keras kepala dan egois, pria yang mencintai Allah dan mengajak keluarganya untuk mencintai Allah, pria yang punya pendirian sangat amat keras dalam hal agama, bahkan sering mengakibatkan perbedaaan pendapat. Tetapi hal ini yang saya kagumi dari beliau dan saya merasa bangga pernah dididik oleh beliau.

Ya, pria ini adalah sosok manusia kedua yang menjadi idolaku setelah Rasulullah Muhammad S.A.W, pria ini adalah manusia biasa yang penuh dengan kekhilafan dan keterbatasannya sebagai manusia. Beliau mengajarkan kepada betapa berharganya ilmu dan akhlaq dibanding harta atau apapun, beliau yang mengajari untuk marah pada saatnya dan teramat pemaaf dan cepat melupakan kesalahan orang lain. Ya, beliau adalah Papa. Meski kadang beliau menyimpan bahkan menahan cemooh, prasangka buruk bahkan ungkapan kasar dari orang yang tak menyukainya, sabar dan kuat ya Papaku sayang.

Kalau mau jujur, sosok papa bukanlah figur favorit dari sebagian besar waktu saya, terlebih saat saya masih kanak-kanak. Setidaknya itulah yang ada dibenak saya saat saya masih balita, anak-anak, remaja, dan hampir dewasa. Sosok itu sangat jauh dengan sosok mama yang seperti malaikat kala itu. Tetapi waktu menunjukkan bagaimana beliau memposisikannya. Dari kecil saya adalah anak rumahan (yang bisa dibilang terpenjara di dalam tembok baja). Yes!! Saya tidak pernah diizinkan untuk keluar rumah, bermain bersama sembarang orang, bahkan saya tidak boleh menerima pemberian apapun dari orang lain bahkan saudara sekalipun. Papa sangat selektif dan menjagaku. Setelah besar barulah saya tahu kenapa Papa memperlakukan saya seperti itu karena saya ini anak perempuan. Yang harus dijaga sebaik mungkin, tidak boleh sembarang keluar rumah tanpa didampingi mahramnya. Kebiasaan ini juga yang ternyata sekarang membuat saya betah di rumah. 


Suatu hari saat saya masih kuliah strata-1, sebuah SMS terkirim ke handphone saya, dan itu berasal papaku. Tahukah apa yang beliau sampaikan disitu? dengan keterbatasan fisiknya yang sudah berulang kali kena serangan stroke beliau menulis,


 “Mau sehat murah rezki jangan lupa shalat 5 waktu awal waktu juga shalat tahajud dan shalat dhuha, qur’an tak ketinggalan insyaallah”.


 Ya, ini bukan kali pertama beliau mengirim sms seperti ini, banyak hadist dan doa-doa yang selalu beliau kirimkan dan beliau anjurkan untuk di baca. Mungkin ketika saya akan menikah, jika beliau sehat pasti beliau sempatkan untuk mengkopi buku doa-doa dan memberikan kepada saya plus disertai dengan nasehat-nasehat filosofisnya.

Hampir keseluruhan pola hidup, saya dapatkan dari tuntunan beliau, semua hal yang sangat amat saya benci di waktu kecil, baru saya rasakan sekarang manfaatnya. Saya menjadi gila membaca; ya, sedari saya kecil Papa hampir setiap hari membelikan majalah, buku cerita, donald bebek, mentari, bobo untuk di baca. Tetapi tetap saja saya selalu kehabisan bahan bacaan, bahkan ketika berkunjung ke tempat keluarga, dan cukup beri saja saya satu buku cerita dan saya akan betah di kamar seharian. Setiap hari jumat papa selalu membelikan buku bacaan agama yang beliau beli dari masjid selepas sholat jumat.

Sedari kecil saya selalu dibangunkan pagi-pagi oleh beliau. Setiap subuh saya dibangunkan dari cara halus sampai paksaan oleh papa. Puluhan kali saya selalu mengumpat, menggerutu apabila dibangunkan (ampuni hamba ya Allah), tetapi papa tidak pernah lelah, bahkan tidak pernah takut apabila aku jadikan musuh nomer satu kala itu. Sampai akhirnya saya juga senang mendengarkan musik rock/barat yang diputar saat subuh di salah satu televisi swasta sebelum televisi tersebut mulai siaran, tetapi papa tidak pernah marah dan protes, seperti halnya Buya Hamka yang tidak melarang anak perempuan tak berjilbab bermain-main di dekat masjid, karena semua itu ada prosesnya, papa menjadikan kesukaan saya terhadap musik rock membuat saya bangun pagi dan bisa melaksanakan sholat subuh sebelumnya. Karena saya masihlah anak-anak, seperti Buya Hamka yang beranggapan asal anak-anak itu mau mendekati masjid, maka lama-kelamaan mereka akan mengerti dengan sendirinya.

Disiplin dan tepat waktu adalah satu hal yang beliau ajarkan sedari kecil, jadwal tidak tertulis di hidupku harus saya penuhi. Beliau akan sangat marah apabila saya tidak pergi mengaji seusai shalat ashar, saya tidak menggosok gigi sebelum tidur dan tidak belajar untuk keesokan harinya. Beliau juga orang yang sangat bisa menepati janji, meskipun beliau sangat “cool” menurut saya. Namun saya tahu beliau pasti bangga saat melihat saya berprestasi, dan terkadang papa memberikan penghargaan terbaik kepada apa yang saya lakukan. Membelikan makanan favorit saya apabila saya tidak batal puasa, saya juara kelas, sampai saya mengerti dan hikmahnya mengalir pada diri ini. Meskipun beliau tidak membanjiri saya dengan segala apa yang saya minta, tetapi saya merasa semua pelajaran yang diberikannya kepada saya itu lebih dari cukup. 

Papa juga yang menanamkan jiwa iman inasi di otak saya, sejak kecil beliau selalu membelikan kaset cerita, speedy si tikus cerdik, si cantik dan si buruk rupa, dsb, dimana cerita audio akan membuat pikiran kita lebih berimajinasi dan bervariasi dibanding dengan visualisasi yang marak disertai acara televisi yang sangat tidak layak, apalagi saat ini. Beliau pula yang mengajarkanku untuk berbagi walaupun sedikit, berusaha memberi dan bukan meminta, baik ilmu dan materi. 

Saya sangat bangga mempunyai papa seperti beliau, kemuliaan hatinya di samping mungkin beliau memang orang yang keras jika memiliki keinginan. Saya sangat ingin seperti beliau, curahan hati ini berawal dari kejadian di satu hari Sabtu pagi. Ya! papa saya seorang notaris, pagi-pagi sekali sudah ada seorang pria datang ke rumah yang juga sekaligus kantor tempat papa saya menerima klien. Seorang bapak yang tinggal di pinggiran kabupatenku datang ke kantor untuk meminta potongan harga dalam pengurusan sertipikat tanah. Sebenarnya papa itu orang yang sangat murah dalam memberikan tarif atas jasa di bidangnya ini. Bapak ini memohon sekali untuk diberikan lagi potongan harga dalam transaksi jual beli tanah yang baru dia beli, beberapa tanah di lereng hutan di pinggiran kabupaten tempat saya tinggal. Pegawai papa saya pun sudah menjelaskan kalau harga yang diberikan ini sudah murah sekali, bahkan kalau dibandingkan dengan kantor-kantor notaris yang lain sekalipun. Namun si bapak tetap memohon sekali karena uangnya tak cukup untuk membayar sebuah sertipikat tanah tersebut. 

Bapak itu memohon kalau memang tidak bisa dikurangi lagi lebih baik saya mundur dulu saja sebab uangnya memang kurang, dengan pendapatannya yang minim sebagai pengumpul kayu dan ranting pohon di hutan. Kemudian pegawai papa saya ini bertanya pada mama saya yang juga asisten papa. Beberapa saat kemudian mama saya menjelaskan kepada bapak tersebut kalau memang biaya proses sertipikatnya segitu dan tidak bisa dikurangi lagi karena memang sudah mepet sekali, dan tarif-tarif dari kantor pertanahan serta biaya proses memang segitu. Kalaupun mau dipotong cuma bisa potong dari fee jasanya papa. Tapi si bapak masih saja memohon mohon. Akhirnya mama saya menanyakan kepada papa saya bagaimana solusinya, dan tanpa berpikir lama beliau langsung mengangguk sambil berkaca-kaca matanya.

Papa benar-benar memiliki hati yang lembut sekali, sampai-sampai saya yang menyaksikan terharu sekali sehingga ikut terbawa suasana. Beliau rela tidak mengambil fee jasanya karena kasihan mungkin melihat bapak itu. Ya memang kita pernah dalam kedaan sulit dalam ekonomi, namun sekarang Allah telah merubah hidup kita menjadi lebih bahkan jauh lebih baik. Jadi saatnya kita untuk berbagi kepada orang-orang kecil, orang-orang yang kesusahan dan kekurangan. Papa selalu mengajarkan untuk selalu ingat bersedekah dan mengeluarkan zakat. Semakin kita banyak memberi insyaallah Allah akan lipat gandakan rejeki kita. Sedekah itu tidak harus berupa materi, pertolongan memudahkan urusan orang lain itupun terhitung sedekah. MasyaAllah, saya ingin sekali bisa seperti beliau, dengan ikhlas dan tanpa pikir panjang diberikan semua untuk beramal, semua yang ada ini bukan milik kita, ini semua hanya titipan kata beliau. Kejadian ini makin mengingatkan aku untuk terus bersyukur dan menjadi alarm agar terus istiqomah untuk bersedekah..bahkan profesi pun bisa membuka jalannya..:)


Tiga bulan sebelum Papa berpulang, 13 Desember 2012 entah mengapa rasanya sakit sekali hati ini melihat Papa. Saya merasa sepertinya Papa sedih sekali saat saya harus kembali ke Surabaya untuk mempersiapkan ujian tesis. Berlinang air mata saya saat perjalanan menuju Surabaya. Ya Allah terima kasih atas sedikit berita yang Engkau kabarkan bahwa Engkau akan menjemput orang yang sangat kukasihi ini. Sudah sepuluh tahun Papa diuji oleh sakit stroke dengan kondisi naik turun dan membersamai saya bertumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan kuat. Keadaan ini memaksa saya untuk lebih mempersiapkan hati ini, ya memang saya harus siap apabila sewaktu waktu tiba waktu perpisahan itu.😢


“Kita tidak akan pernah benar-benar kehilangan apapun, selama masih punya Allah.” 


Kehidupan kita bukanlah hak kita, melainkan karunia dari-Nya. Kita hidup karena Allah yang hidupkan, dan suatu saat nanti akan mati, juga karena Allah yang matikan. Berikut segala kejadian yang hadir di antara hidup dan mati kita, itu pun karena Allah yang berkehendak.

Kita ini manusia diciptakan, disempurnakan, diberi rizki, dituntun. Tidak ada satu pun kuasa kita terhadap kehidupan kita sendiri. Semuanya adalah kuasa Allah. Lahaulla walaa quwwata ilabillah. Tiada daya dan upaya, melainkan atas seizin-Nya. Tidak ada satu pun kekuasaan kita terhadap takdir kehidupan.

Kita bisa saja memiliki keinginan, tetapi Allah juga memiliki kehendak. Dan sekuat apapun keinginan kita tersebut, tetap saja yang akan terjadi adalah kehendak Allah. Apabila kehendak-Nya itu sesuai dengan keinginan kita, itu adalah bonus.

Jangan meminta kepada-Nya untuk memperkecil skala hambatan dan kesulitan, tapi mintalah pada-Nya untuk memperbesar skala kekuatan dan kemampuan. Karena sebetulnya, bukanlah besar masalah yang membuat kita terhimpit, tapi kelapangan hati dan kapasitas diri yang tidak bertumbuh.

Kita tidak akan tahu rasanya manis, bila kita tidak pernah mencicipi rasa pahit. Kita tidak akan tahu nikmatnya bangkit, bila kita tidak pernah merasakan jatuh. Dan kita tidak akan tahu nilai keindahan sebuah iman, bila kita tidak pernah diuji.

Betapa indah skenario buatan Allah. Tidak ada satu hal pun yang berujung duka, bila kita percaya bahwa Allah selalu menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya, dan menghindarkan kesukaran terhadapnya.


Barangkali saat ini Allah juga sedang tersenyum memperhatikan hamba-hamba-Nya yang tengah diliputi kesedihan mendalam, bukan sebab Allah berbahagia di atas penderitaan kita, melainkan sebab Allah tahu bahwa Dia sedang mempersiapkan yang lebih baik bagi hamba-Nya tersebut. Hanya saja kita harus rela menyerahkan yang Allah minta untuk diikhlaskan.

Bisa jadi kita belum mendapatkan jawaban terbaik Allah itu sebab kita belum sepenuhnya melepaskan hal yang Allah minta untuk dikembalikan. Kita belum ridho pada segala takdir-Nya. Padahal keridhoan kita terhadap Allah itu, adalah gerbang bagi Allah untuk menghantarkan ridho-Nya kepada kita.


 “Setiap bulir air mata, kelak akan dipertanyakan.. untuk siapakah ia menetes. Adakah untuk Rabb mu, atau malah untuk menangisi yang lainnya?”

Saya menengadahkan kepala ke atas, memandang langit-langit kamar, menembus batas menerawang ke Arsy Allah. Saya menutup mata, menyampaikan permohonan maaf pada Allah atas segala khilaf, atas segala pengkhianatan, atas segala perbuatan dan lisan yang tidak berkenan, dan atas segala rasa yang belum diizinkan. Terimakaih atas kehadiran siapapun ke dalam kehidupan saya sebab melalui merekalah saya mempelajari banyak sekali ilmu kehidupan yang tidak bisa saya pelajari jika sendirian. Terima kasih Papa telah mengantarkan sampai ke gerbang pernikahan meskipun rasanya masih banyak hal yang belum sempat saya berikan kepadamu.😭

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s