Home Education, Ibu Profesional, Jurnal Harian, PORTOFOLIO FARIS

Learning Day 9 : Berkenalan dengan Game Edukatif di Perpustakaan Provinsi Kepulauan Riau

Bermain adalah dunia anak-anak, mereka menggunakan permainan sebagai salah satu cara mereka mengekspolarasi dunia. Mereka menggunakan panca indera yang dimilikinya untuk belajar banyak hal. Anak-anak sejak lahir memang belum pernah kami kenalkan pada smartphone, mereka hanya sekedar tahu fungsi dari smartphone salah satunya sebagai sarana komunikasi. Hingga usianya yang keempat pun Faris belum bisa mengoperasikan smartphone, membuka kuncinya saja ia tidak tertarik karena kami punya kesepakatan mengenai waktu penggunaan smartphone saat mereka hendak menelepon kakek nenek atau saudara saja. Alhamdulillah dengan begini tidak ada lagi istilah kecanduan smartphone di rumah kami. Saya dan suami merasa anak-anak belum bisa membedakan mana mainan dan benda lain. Jadi ketika menggunakan kecanggihan teknologi anak-anak perlu didampingi. Pengawasan yang tinggi juga diperlukan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Kegiatan kami hari ini sangat menarik minat Faris. Apa itu? Saya mengenalkan game edukatif untuk pertama kalinya pada Faris. Sebenarnya kegiatan ini di luar dari rencana. Hari ini saya dan anak-anak kembali berkunjung ke Perpustakaan Provinsi Kepulauan Riau. Seperti biasa anak-anak hanya bermain mainan edukatif yang disediakan di rak mainan dan menghabiskan energi dengan bermain prosotan. Setelah bosan dan capek barulah mereka mau duduk dan membaca buku pilihan masing-masing.

Tidak diduga hari ini banyak sekali abang-abang yang mengunjungi perpustakaan dan bermain game edukatif di komputer yang disediakan perpustakaan. Gimana nggak tertarik kan? Awalnya anak-anak hanya ikut nimbrung dan melihat apa yang abang-abang itu mainkan. Eh lama-lama Faris jadi tertarik ingin ikut bisa bermain sambil bertanya dan komentar ketika berkumpul bersama teman-teman yang lain. Untuk menjawab rasa penasarannya akhirnya saya memberikan kesempatan kepadanya untuk mencoba memegang mouse dan bermain sesuai dengan instruksi.

Tidak disangka sangka ternyata anak yang selama ini saya pikir tidak bisa duduk tenang dan fokus rupanya dengan tekun mempelajari hal baru. Ia sangat memperhatikan detil dan langkah-langkah apa yang harus dilakukan ketika akan bermain game ini. Jadi, kesimpulan yang saya ambil strategi yang dapat diterapkan kepada anak dengan gaya belajar kinestetik adalah pelajari sesuatu yang menarik dan baru baginya. Pasti ia akan rela bersikap tenang dan fokus😁

Ketika Faris berumur empat tahun ini, saya mempertimbangkan untuk mulai mengenalkan sedikit teknologi dan permainan edukatif yang ada di personal computer. Di usianya ini biasanya anak-anak mulai mengeksplorasi segala hal untuk memuaskan keingintahuannya, orang tua yang mengontrol porsinya. Berikut ini beberapa hal yang dapat dijadikan pertimbangan ketika memilihkan game edukasi untuk anak balita:

1. Di usianya ini mereka memasuki tahap perkembangan kognitif dan tahap sensori motorik. Hal inilah yang membuat balita cenderung menggunakan panca indera yang dimilikinya untuk mengeksplorasi permainan tertentu sehingga diperlukan pengawasan ekstra.

2.Rasa penasaran yang tinggi akan membuat balita selalu bereksperimen dengan benda-benda yang baru bagi mereka. Balita pasti tertarik untuk memencet apa saja, jadi sebaiknya pilih game edukasi yang tidak ada iklan atau aplikasi berbayar.

3. Sebaiknya pilih permainan yang menggunakan petunjuk dengan kosakata jelas dan sederhana. Anak balita sedang belajar mengikuti instruksi yang diberikan.

Bermain menggunakan permainan digital ternyata membuat anak-anak betah duduk lama di depan layar dan tidak mudah bosan. Media interaktif yang berupa suara, animasi dan game play yang menarik akan membuat rasa keingintahuan mereka lebih tinggi. Sebagai orangtua yang baik, kita dituntut harus selektif dalam memilih game edukasi anak balita.

Game edukatif yang kami coba hari ini merupakan permainan yang menggunakan banyak animasi untuk membangun kata-kata. Ada banyak pilihan tema yang bisa kita coba sesuai dengan tujuan belajar masing-masing anak. Misalnya game untuk belajar aksara dimana setiap huruf yang ditampilkan akan diiringi dengan suara fonetik dalam aksen lucu sehingga mendorong anak-anak menirunya. Permainan jenis ini sangat bagus untuk melatih kecerdasan bahasa anak-anak melalui beberapa kata dasar yang sederhana dan mudah diingat mereka.

Ada juga game dengan tema lingkungan yang melatih indera pendengaran dan indera peraba untuk menemukan solusi sebuah permasalahan. Permasalahan yang dimunculkan berupa isu-isu sosial yang sering kita lihat sehari-hari seperti banjir, hutan gundul, kebakaran hutan, tsunami yang dikemas dalam bentuk permainan maze, memory game, menyusun potongan puzzle dan lain-lain.

Itulah beberapa contoh game edukasi anak balita yang bisa kita berikan dalam menunjang pertumbuhan dalam tahapan kognitif anak. Poin penting yang harus digaris bawahi, orang tua wajib mendampingi balita ketika mereka sedang bermain-main. Hubungan balita dengan orang tua akan mendukung perkembangan kognitifnya. Bermain bersama adalah cara membangun hubungan yang memiliki manfaat yang sangat besar.

Buat buibu yang masih bingung merencanakan kegiatan bersama anak-anak, kita bisa meluangkan waktu berakhir pekan untuk mencoba game edukatif di Perpustakaan Provinsi Kepulauan Riau ini. Kegiatan sederhana seperti ini InsyaAllah dapat memberikan kesan sederhana dan penting bagi anak-anak. Anak-anak akan banyak belajar tentang siapa mereka, siapa orang terdekatnya dan dimana mereka berada. Semoga beberapa game edukasi untuk anak balita yang kami coba hari ini berkesan dan membuat mereka lebih semangat untuk mempelajari banyak hal baru.

Era digital memberikan perubahan besar terhadap proses belajar mengajar pada anak. Mau tidak mau game pun menjadi salah satu media interaktif untuk menunjang tumbuh kembang anak. Media yang menggabungkan beberapa macam media pembelajaran seperti audio dan visual ini turut membantu meningkatkan minat belajar pada anak usia dini.

Game memang dapat berdampak negatif bagi anak, namun pengawasan dan arahan dari orang tua akan membuat hal negatif tersebut menjadi hal yang positif bagi anak paud. Positif ataupun negatif kan tergantung bagaimana kita memanfaatkan dan menggunakan teknologi☺️

#hari9 #gamelevel4 #tantangan10hari #kelasbundasayang #mengamatigayabelajaranak #ibuprofesional #cerita2al #portofolioanak.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s