Bunda Sayang, Hari-Hari, Home Education, Ibu Profesional, Jurnal Harian, PORTOFOLIO FARIS, Portofolio Irbadh

Learn Math Day 10 : Belajar Konsep Pecahan Ketika Berbagi Potongan Pizza 🍕

Nyam.. Nyam. .. Nyam… begitulah suara yang terdengar di tepi pantai. Suara siapakah itu? Ada seorang anak kecil yang mengaku sebagai monster. Ingin tertawa rasanya mendengar pengakuan bocah berusia dua tahun ini. Siapa lagi kalau bukan Irbadh, anak bayi yang sudah beranjak menjadi toddler. Kadang lucu dan menyenangkan, kadang juga ngeselin tingkahnya. Ah, setiap anak selalu punya ceritanya masing-masing. Lalu ada cerita apa hari ini? Hari ini Faris dan Irbadh mengajak tantenya jalan-jalan ke pantai sekaligus makan pizza itali. Melalui kegiatan makan pizza ini secara tidak langsung Faris belajar konsep pecahan. Ah, ternyata matematika selalu ada di sekitar kita, ujar saya dalam hati. Ketika pizza yang kita pesan datang, saya mengenalkan konsep pecahan sebagai pembagian dari satu benda (pizza). Misalnya setengah atau 1/2 itu didapat dari memotong 1 pizza menjadi dua bagian yang sama. Kemudian saya potong lagi pizzanya 1/3 dan 1/6
Dari beberapa potongan pizza tersebut, saya meminta anak-anak membandingkan potongan pizza berukuran 1/3 dan 1/6. Mereka dapat melihat kalau pizzanya saya potong menjadi 6 bagian yang sama kemudian saya bagikan kepada 2 orang, Faris dan Irbadh ternyata masing-masing mendapatkan 3 potongan pizza. Kemudian, kami membandingkan potongan pizza 1/2 dan 1/6. Ketika saya memotong pizza menjadi 6 bagian yang sama dan saya bagi ke 3 orang, ternyata masing-masing mendapat 2 potong pizza. Simulasi ini dapat dilanjutkan sampai potongan pizzza tersebut habis, siapa yang tertarik ikut belajar?

#harike10
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Thinklogic

Iklan
Bunda Sayang, Home Education, Ibu Profesional, Jurnal Harian, PORTOFOLIO FARIS, Portofolio Irbadh

Learn Math Day 9 : Bermain LaQ, Wujudkan Imajinasi Menjadi Nyata

Sampai hari ini anak-anak masih betah bermain dan belajar di rumah bersama dengan saya dan suami. Kalau bosan, kami biasanya mengunjungi tempat yang bisa dieksplor meskipun hanya sekedar pergi ke taman. Beberapa minggu terakhir saya masih kewalahan dalam membuatkan worksheet sebagai bahan belajar harian mereka. Rutinitas baru dan bayi yang ritme tidurnya belum teratur membuat saya keteteran dengan jadwal harian yang sudah saya susun. Ditambah lagi tidak ada asisten yang bisa menggantikan atau dimintai tolong ketika butuh bantuan. Lengkap sudah😂
Back to topic, apa yang kita lakukan hari ini?

Hari ini kami bermain LaQ, permainan konstruksi dari Jepang hasil hunting di pasar seken. Kebanyakan kegiatan bermain dan belajar di rumah kami mengacu pada metode montessori, namun semenjak anak kedua dan ketiga lahir semakin kesini saya juga banyak terinspirasi dari berbagai pendekatan lainnya yang saya mix dan match sendiri sesuai kebutuhan anak-anak. Sesuai dengan pendekatan Montessori, saya berusaha mengenalkan segala sesuatu kepada anak-anak secara konkret, multi sensori, bisa dipegang, berwujud serta dapat dimanipulasi dengan berbagai indera oleh mereka. Misalnya ketika saya mengenalkan konsep tinggi dan pendek, saya mengenalkannya menggunakan beberapa gelas dengan ukuran yang berbeda. Sehingga anak-anak bisa memegang, merasakan dan melihat sendiri melalui panca inderanya bahwa gelas yang berbeda ukurannya itu ternyata juga berbeda beratnya. Setelah melewati fase ini, Faris semakin mengenal berbagai hal secara konkret dan abstrak lalu perlahan beralih dari konkret menuju ke abstrak.

Hari ini Faris dan Irbadh fokus sekali ingin membuat sesuatu dari laQ. Awalnya saya belum memperbolehkan Faris untuk memainkan mainan konstruksi ini karena ia belum berumur 5 tahun. Sesuai petunjuk yang tertera di kardus sih permainan ini diperuntukkan bagi anak yang sudah berumur 5 tahun ke atas. Namun melihat antusias Faris saya pun akhirnya mengizinkan ia mengeksplorasi mainan ini. Di usianya yang keempat ini saya tidak pernah menyangka kalau ternyata ia bisa fokus dan tenang bermain konstruksi. Montessori membuka pikiran saya, sebab melalui metode ini saya diyakinkan bahwa semua anak ingin belajar, semua anak melewati periode sensitif, semua anak belajar melalui bermain atau melakukan sesuatu, semua anak melewati beberapa tahap perkembangan dan semua anak ingin menjadi mandiri. Jadi buat apa saya khawatir berlebihan ketika anak belum mau belajar ini itu sebab semua anak sesungguhnya memiliki pikiran yang mudah menyerap, tinggal bagaimana orang tua menstimulasi mereka😊

Apakah kita mengenalkan konsep dan berbagai hal secara menarik, seru, tanpa paksaan, tanpa tuntutan, secara nyata dalam kehidupan sehari-hari? Ternyata, kegiatan pengenalan berbagai konsep dapat dilakukan dengan cara menarik dan seru bahkan membuat anak ketagihan. Seperti hari ini, Faris sangat fokus jika bermain konstruksi, ia membuat berbagai macam bentuk. Melalui permainan ini selain mengeksplor berbagai bentuk, ia juga mengenal konsep keseimbangan. Untuk anak seusia Irbadh, kegiatan ini bisa juga digunakan untuk mengenalkan warna, mengelompokkan warna dan bentuk. Untuk Faris yang berusia 4 tahun lebih nampaknya ia juga sedang dalam masa sensitif terhadap konsep kuantitas. Ia mengulang kembali konsep 1,2,3,4,5,dst secara konkret dan jelas ia dapat melihat bahwa 2 itu lebih sedikit daripada 5 dan 5 lebih banyak daripada 3. LaQ memiliki bagian yang kecil-kecil sehingga tidak direkomendasikan untuk anak di bawah 5 tahun. Namun untuk anak yang berusia di bawah 5 tahun yang sudah sering melakukan kegiatan keterampilan hidup dan tentunya kemampuan motorik halus, koordinasi mata serta tangannya sudah terasah maka boleh diperkenalkan dengan mainan konstruksi satu ini. Jangan lupa untuk tetap diawasi ya, Mak! Sudah dulu ya cerita hari ini, saya mau membujuk Faris yang belum mau tidur juga karena keasyikan bebikinan dengan laQ.

#harike9
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Thinklogic

Bunda Sayang, Home Education, Ibu Profesional, Jurnal Harian, PORTOFOLIO FARIS, Portofolio Irbadh

Learn Math Day 8 : Eksplorasi Bentuk Geometri dengan Family Frame

“To Instill a love of Math. MATH is everywhere, MATH is part of our life. Let’s make MATH alive.” – Elvina Lim Kusumo

Prakarya yang kami buat hari ini adalah bingkai foto atau pigura. Membuat pigura ini dilakukan oleh Faris dan Irbadh bersama-sama dan saling membantu jika ada yang kesulitan. Di rumah, kami tidak pernah memajang foto sama sekali. Bahkan saya selalu mengingatkan semua anggota keluarga untuk tidak memajang foto. Lalu buat apa dong bikin pigura? Pasti teman-teman bertanya di dalam hati. Pigura, selain untuk memajang foto juga bisa diisi kartu ucapan. Misalnya kartu ucapan selamat Idhul Fitri atau Idhul Adha. Jadi anak-anak tidak mesti memajang fotonya.

Dalam pembuatan bingkai foto ini hal yang harus dilakukan pertama kali yaitu mengukur terlebih dahulu foto/kartu ucapan yang akan dibingkai menggunakan stik es krim. Selanjutnya, kita dapat menyusun stik es krim yang akan digunakan sebagai bingkai.

Prakarya yang satu ini terbilang sangat sederhana sehingga mudah dibuat oleh anak usia dini dan bisa diletakkan di dinding ruang tamu atau meja. Meski sederhana, bingkai foto/kartu ucapan unik dari stik es krim yang dibuat oleh anak-anak pasti akan memiliki daya tarik tersendiri.

Selain melatih motorik halus anak-anak, kegiatan ini bisa juga digunakan sebagai media pembelajaran bentuk geometri loh.

#harike8
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Thinklogic

Bunda Sayang, Home Education, Ibu Profesional, Jurnal Harian, PORTOFOLIO FARIS, Portofolio Irbadh

Learn Math Day 7 : Bermain Peran, Learn Through Senses

Kegiatan anak-anak hari ini adalah bermain playdough atau lilin mainan bertema sushi. Jadi ceritanya mereka berdua bermain peran sebagai penjual sushi. Irbadh yang jadi pelayannya, mas Faris yang jadi chef dan Mamau sebagai pembelinya. Seru sekali ketika mereka menyiapkan menu yang akan disajikan. Ngomongin playdough, di toko mainan saat ini banyak dijual playdough atau lilin mainan dari berbagai merk dan harga. Dengan playdough, anak-anak bisa membuat bentuk bebas dengan tangan mereka secara mandiri bahkan ada beberapa produk playdough yang sudah menyertakan cetakan di dalam kemasan kardusnya. Mainan ini sangat baik untuk melatih kemampuan motorik halus anak, konsentrasi dan kesabaran.

Ini sushi buatan anak-anak

Permainan matematika yang bisa dilakukan dengan mainan playdough ini antara lain :
1. Kita membuat berbagai bentuk geometris sederhana dan mengenalkan namanya pada anak. Setelah diberikan contoh anak-anak bebas membuatnya sendiri.
2. Ketika memilih playdough menjadi bentuk ular-ularan panjang,kemudian kita bisa mengajak anak membuat simbol bilangan (bentuk angka 0 sampai dengan 9) dari pilinan tersebut.
3. Anak-anak juga dapat diajak membuat bola-bola kecil lalu menghitungnya bersama-sama.

Jika punya waktu luang kita pun bisa membuat playdough homemade sendiri dari bahan-bahan sederhana di rumah, cara pembuatan playdough pun banyak ditemukan. Kalau playdough yang kami mainkan hari ini beli di pasar seken beberapa waktu yang lalu. Harap dimaklumi mama masih agak repot dengan rutinitas baru jadilah kita bermain dengan apa saja yang ada di rumah. Tunggu cerita seru lainnya ya, besok kita sambung lagi😁

#harike7
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Thinklogic

belajardarialam, Bunda Sayang, Home Education, Ibu Profesional, Jurnal Harian, PORTOFOLIO FARIS, Portofolio Irbadh

Learn Math Day 6 : Mengenal Jumlah dan Bilangan dari Kebun

belajar menanam kencur di rumah

Berkebun bagi sebagian besar warga kota boleh jadi merupakan sebuah kegiatan yang asing. Maklum, lahan kota yang terbatas, minimnya taman kota, waktu yang serba terbatas, banyaknya bangunan, gedung dan apartemen membuat kehidupan manusia yang hidup di kota kering dari sejuknya kehijauan kebun.

Keterampilan matematika ternyata juga bisa dikenalkan ketika kami berkegiatan di kebun. Apa yang bisa dipelajari oleh anak dari orang tua dari pengalaman berkebun? Tanpa saya sadari, ketika saya mengajak anak-anak untuk mengukur tinggi tanaman, menghitung luas tanah yang dibutuhkan untuk menanam, mengukur jarak di antara tanaman, atau membandingkan ukuran bibit yang sedang disemai pun termasuk mengajak mereka untuk mengenal jumlah dan bilangan.

hasil pembibitan daun mint di media tanah yang dimakan ulat

Melalui berkebun, anak-anak dapat belajar sejak dini tentang lingkungan hidup. Berkebun membuat mereka juga belajar lebih peka terhadap perubahan cuaca dan iklim. Skill ini fungsinya untuk menentukan kapan waktu terbaik menanam benih. Melalui kegiatan berkebun juga mengajarkan anak mengembangkan keterampilan sosial dan pengembangan diri. Ketika 2AL berkebun bersama maka mereka akan berbagi tugas, si kakak biasanya mencabut rumput dan si adik menyiram tanaman. Ketika tanaman kebun terkena hama sseperti belalang atau siput, kakak dan adik ini belajar memecahkan masalah sebagai satu tim. Kedewasaan anak pun dapat muncul saat mereka bertanggung jawab terhadap hidup matinya tanaman. Dengan berkebun, anak juga bisa memahami sebab akibat, misalnya tanaman bisa mati jika tidak disiram dan gulma dapat berebut zat-zat makanan dengan tanaman yang dirawat oleh anak-anak.

batang samhong dibuang sayang, dire-grow saja

Anak juga mempraktikkan pembelajaran aktif (active learning), mereka belajar matematika dalam kegiatan menghitung benih, memetakan lahan dan membuat grafik panen tanaman. Next, saya berharap mereka dapat naik level ketika mereka siap belajar membaca dan menulis saya ingin mereka yang menulis papan penanda jenis tanaman serta mencatat jadwal menyiram. Tidak ketinggalan, bagi anak seusia Faris yang penasaran dengan banyak hal membuat saya pun ikut belajar dari berbagai pertanyaannya. Seperti “Kenapa kok tanaman ini disebut tanaman mangkokan? Emang bentuknya kaya mangkok, Ma?” atau “Gimana sih caranya daun masak makanannya?”Lambat laun, anak-anak pun menjadi paham gizi dan kesehatan. Mereka pun senang mencoba makanan baru, apalagi jika makanan tersebut berasal dari kebun mereka sendiri. Pengalaman berkebun memberikan banyak kesempatan untuk belajar memasak dan menyusun menu keluarga dari hasil panen kebun kami. Anak-anak juga cenderung lebih senang makan sayur dan buah segar ketimbang makanan instan. Dengan berkebun, anak pun menemui banyak peristiwa yang dekat dengan ilmu sains.

mencoba menanam melon rock dari biji buah yang kami beli di pasar

Konsep-konsep sains seperti fotosintesa mudah dipelajari lewat pengalaman berkebun. Dengan berkebun, anak dapat belajar tentang ekologi, kebutuhan tanaman dan hewan, bagaimana mengatasi hama secara alami bahkan mereka pun sudah terbiasa memilah sampah dan membuat kompos dari sisa-sisa makanan. Kegiatan belajar di alam memberikan pengalaman dan pembelajaran yang lebih bermakna.😍

#harike6
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Thinklogic

Jurnal Harian

Learn Day 5 : Ada Segitiga di Tangram

Setelah saya amati beberapa minggu terakhir Faris sedang berada dalam periode sensitif terhadap bentuk geometri, jumlah dan dua huruf yang digabungkan. Menyambut ketertarikannya yang sangat besar terhadap bentuk geometri, mendadak saya kelimpungan karena sebenarnya saya sendiri masih dalam tahap menata diri dengan rutinitas dan anggota baru di rumah. Maunya sih bebikinan sama mas-mas yang mulai mati gaya karena banyak keinginan namun apalah daya emak bukan wonder women 😱
Hari ini akhirnya saya mencoba untuk menyesuaikan dengan periode sensitifnya dengan bermain tangram. Kali ini saya tidak memberikan banyak rules kepada mereka. Anak-anak bebas mengeksplorasi segala macam bentuk untuk membuat sebuah bangunam.

Apasih tangram itu? Tangram adalah permainan yang paling tua yang dikenal dalam matematika. Perminan ini dikembangkan pertama kali di negeri Cina dan sering disebut dengan puzzle china. Tangram berasal dari kata Tang dan Gram.Tangram (Bahasa Mandarin : 七巧板 (qī qiǎo bǎn), secara harafiah berarti “tujuh papan keterampilan”) adalah suatu puzzle yang terdiri dari tujuh keping bangun datar (disebut ‘tans’) yang terdiri atas :

– Dua segitiga siku-siku sama kaki (besar)
– Dua segitiga siku-siku sama kaki (kecil)
– Satu segitiga siku-siku sama kaki (sedang)
– Satu bujursangkar (kecil), dan
– Satu jajaran genjang

Melalui kegiatan bermain ini, banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh antara lain:

Ø Mengembangkan rasa suka terhadap geometri
Ø Mampu membedakan berbagai bentuk
Ø Mengembangkan perasaan intuitif terhadap bentuk-bentuk dan relasi-relasi geometri
Ø Mengembangkan kemampuan rotasi spasial
Ø Mengembangkan kemampuan pemakaian kata-kata yang tepat untuk memanipulasi bentuk (misalnya ‘ membalik’, ‘memutar’, ‘menggeser’)
Ø Mempelajari apa artinya ‘kongruen’ (bentuk yang sama dan sebangun)
Ø Tangram juga dapat menjadi pengalaman multikultural.

#harike5
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Thinklogic

Bunda Sayang, Hari-Hari, Home Education, Ibu Profesional, Jurnal Harian, PORTOFOLIO FARIS, Portofolio Irbadh

Learn Math Day 4 : Belajar Fokus dan Mengenal Bentuk dari Origami

Kalau weekend kalian ngapain aja, Mak? Kalau saya mah ya muterin rumah aja, nemenin anak-anak main (sampai mereka bosan main sama saya tapi entah kenapa nggak bosan-bosan juga mainan yang itu itu aja wkwk). Kegiatan bermain kita hari ini sangat random sekali, salah satunya ya latihan melipat kertas. Memilih kertas sesuai warna favorit masing-masing, lalu melipatnya hingga menghasilkan bentuk yang diinginkan seperti perahu, pesawat terbang , burung bangau, kotak ala ala atau hanya sekedar membuat kupu-kupu sederhana. Hm, bermain origami memang mengasyikan. Meskipun saya sendiri belum fasih membuat berbagai macam bentuk, namun berkat teknologi selembar kertas dapat disulap menjadi apa saja sesuai kehendak kita😅

Origami atau seni melipat kertas selama ini sering dianggap sebagai permainan anak -anak. Padahal, siapa sangka kalau ternyata orang dewasa pun banyak yang hobi mengkreasikanya. Tidak sekedar untuk menyenangkan hati, origami juga dapat di manfaatkan sebagai alat peraga dalam belajar matematika. Istilah origami berasal dari bahasa Jepang, yaitu ‘ori’ yang artinya lipat dan ‘gami’ yang artinya kertas. Jadi, origami bermakna melipat kertas. Meski begitu namun bukan berarti origami ini diciptakan di Jepang loh.

Setelah membaca beberapa referensi, ternyata seni melipat ini pertama kali diperkenalkan di abad pertama zaman Tiongkok kuno tahun 105 Masehi oleh Ts’ai Lun. Kemudian, mulai berkembang dengan pesat di Jepang dan menjadi kebudayaan. Bahkan, setiap aspek kehidupan orang Jepang selalu dikaitkan dengan origami. Saat ini, seni origami sudah sangat populer di seluruh dunia termasuk Indonesia bahkan ada komunitasnya.

Di Indonesia mungkin kita sudah akrab dengan origami sejak berada di bangku taman kanak-kanak. Bagi anak-anak usia dini, berkreasi origami ya bermain dengan kertas. Origami dapat digunakan sebagai media komunikasi yang menyenangkan antara anak dan orang tua. Orang tua pun jadi tahu minat masing-masing anak dari bentuk yang mereka kreasikan. Seni melipat kertas bisa meningkatkan daya konsentrasi anak.

Sebagai fasilitator belajar anak-anak, saya pun merasa terbantu ketika harus memperkenalkan istilah dan konsep dasar yang sering kali sukar di terima. Seperti istilah ‘simetris’, saya bisa lebih mudah menjelaskan sambil mempraktekkan cara melipat kertas kepada mereka. Anak – anak pun akan mudah memahami konsep matematika apabila sering memperhatikan dari hasil lipatan kertas. Ketika saya memandu mereka melipat mengikuti tahap demi tahap lipatan dengan seksama. Misalnya, membuat berbagai macam hewan, mengenal bentuk geometris sederhana, dan masih banyak lagi. Mereka pun belajar untuk mengikuti petunjuk dan arahan dari saya sebagi memandu. Bahkan, seni melipat juga bermanfaat untuk orang dewasa. Diantaranya meningkatkan konsentrasi, kreativitas, serta mempertajam daya ingat. Jadi, tidak terbatas pada usia. Jika sudah berhasil menyelesaikan sebuah karya origami, dijamin akan ketagihan untuk membuat yang lebih menantang. 🤩

#harike4
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Thinklogic