Es Teller dengan Raw Coconut Milk ala Anak-Anak

Hari ini saya sangat terharu melihat semangat anak-anak ketika bekerjasama membuat es teler ala mereka. Dua anak laki-laki saya tergolong anak yang unik,karena mereka sangat senang ngoprek di dapur. Tidak hanya sekedar mencari makanan saja tetapi mereka juga sangat rajin membantu saya menyiapkan makanan, dari kegiatan mengupas sampai tersedia di meja makan. Bahkan ketika bulan ramadan kemarin, mereka juga sangat bersemangat membuat kue bersama saya.

Hari ini mereka kembali membuat kreasi es teler ala ala. Hm, rasanya udah pas sih. Tetapi satu poin yang menarik untuk dibahas adalah penggantian susu kental manis dengan raw santan kelapa. Keluarga kami mengenal dan mempraktikkan foodcombining sejak tahun 2014, jadi kami mengurangi sedikit demi sedikit konsumsi susu ke dalam tubuh. Apa kabar yang candu sama susu. Udah pada tau kan efek samping mencampur buah dan susu?

Jika berbicara mengenai buah dan susu serta kesesuaiannya di pola makam food combining, beberapa artikel kesehatan memang tidak menganjurkan kedua bahan tersebut dicampurkan. Misalnya saja pada metode kesehatan dan penyembuhan dari India bernama Ayurveda, mereka berpendapat susu memiliki sifat laxative sedangkan buah bersifat diuretic,mencampurkan keduanya dipercaya akan menimbulkan efek samping seperti alergi, flu dan batuk. Selain itu buah lebih cepat dicerna oleh tubuh dibandingkan susu yang membutuhkan waktu lebih lama, nah selama proses pencernaan yang berbeda waktunya tersebut maka zat asam di buah akan membuat susu menggumpal dan menciptakan kondisi asam di lambung. Hal ini terutama terjadi pada campuran buah-buah asam seperti strawberry dan susu, sedangkan buah yang manis umumnya lebih aman, kecuali pisang yang juga dipercaya bersifat asam.

Di rumah, kami biasanya mengganti konsumsi susu sapi dengan susu soya atau almond. Nah, spesial hari ini anak-anak mempunyai ide membuat es teller dengan kuah santan segar, tanpa dimasak dan diperas langsung menggunakan air masak. Boleh juga diuji di dapur kami. Anak-anak saya berikan kepercayaan dan kesempatan untuk membuat sendiri makanan mereka. Hm, kalau ditanya gimana rasanya. Percayalah ternyata es teller buatan mereka tak kalah dengan yang dijual di kedai es teler 77, lebih sehat lagi😂 Nah, buat teman-teman yang ingin mencontek resepnya sebagai berikut :

-2 buah alpukat, kupas, buang bijinya dan potong dadu
-2 biji nangka, buang bijinya dan potong dadu
-setengah buah semangka
– buah kelapa muda, ambil dagingnya
-250 gram lidah buaya
-1 liter santan yang diperas langsung dengan air masak
300 ml air

Secara fitrah, setiap anak sejak bayi suka makanan alami (natural) tanpa pemanis dan sebagainya. Sesungguhnya, orangtuanyalah yang malas memasak sehat dan mengenalkannya junk food, menjejalkan makanan kemasan karena pola makan orang tuanya yang buruk 😥 Inilah fitrah fisik yang Allah instal pada manusia, lalu orangtua dan lingkungannyalah yang menyimpangkannya. Anak-anak sungguh pengingat diri ini agar terus belajar istiqomah di jalan yang benar. 😇❤️

Iklan

Meronce Gelang Untuk Adik

Sedari pagi di rumah kami mengalami pemadaman listrik dalam rangka pemeliharaan turbin. Sepulang olahraga pagi anak-anak mandi dan sarapan bersama. Niat hati akan kerja bakti pun gagal total karena listrik tak kunjung menyala. Jam menunjukkan pukul sepuluh setelah mereka berkegiatan sebentar di kebun, listrik tak jua menunjukkan tanda akan menyala. Serelah bermain berbagai permainan dari mulai skipping sampai bermain peran akhirnya mereka bosan juga. Sebelum mati gaya, ujung-ujungnya mereka memutuskan untuk meronce. Masing-masing anak dengan khusyuk memasukkan manik-manik kayu satu persatu ke dalam tali karet. Hmm, akan jadi apakah nanti?

manik-manik kayu ini mau dibuat apa kira kira

Teman-teman pasti sudah tahu kan apa itu meronce. Meronce merupakan kegiatan menyusun benda-benda dengan menggunakan tali atau yang lainnya. Bentuk meronce bisa divariasikan menurut keinginan, sehingga anak-anak dilatih untuk menciptakan sesuatu ide baru, meningkatkan kreatifitas, melatih pengenalan warna bentuk geometri, mengasah kemampuan motorik halus, melatih memegang dengan dua tangan dan sebagainya. Keterampilan meronce merupakan kegiatan memasukkan manik-manik menggunakan benang yang tujuannya untuk membantu melatih anak usia dini menggunakan jari jemarinya untuk memungut, memegang, menjepit antara ibu jari dan jari telunjuk, sehingga keterampilan meronce digunakan sebagai alternatif untuk membantu anak yang mengalami hambatan dalam menggerakkan jari-jemari dan pergelangan tangannya. Selain itu, keterampilan meronce juga memberikan pengaruh positif dalam meningkatkan kemampuan motorik halus anak usia dini.

Bahkan, di dalam dasar montessori kegiatan meronce ini masuk ke dalam pengajaran area practical life. Pada kegiatan-kegiatan sederhana seperti menuang air atau menyendok biji-bijian terdapat beragam manfaat bagi tumbuh kembang anak. Salah satunya untuk menguatkan jari sebagai persiapan menulis. Dalam lingkup montessori, kegiatan menuang, menyendok, menjepit, meronce, mengulek, serta beragam kegiatan lain di area practical life skill merupakan kegiatan yang menstimulasi dan menguatkan ketiga jari dan pergelangan tangan anak. Ketika jari dan pergelangan tangan sudah cukup kuat, anak akan dengan gembira menulis. Tidak akan ada lagi drama anak mogok menulis di usia 5 sampai dengan 6 tahun.

Manfaat lainnya kegiatan ini dapat memperpanjang rentang konsentrasi. Saya merasakan manfaat ini ketika melihat progress Faris. Dulu sekali ketika memasuki rentang usia 2 sampai dengan 3 tahun Faris masih belum tertarik bermain lacing. Dia hanya senang menuang dan menyendok manik-manik ke dalam banyak wadah. Lalu, suatu ketika saya ajak ia berkunjung ke perpustakaan dengan semangat ia memainkan beberapa manik-manik dengan berbagai bentuk geometri. Ukurannya lebih besar daripada yang kita punya di rumah. Dari situlah saya mulai tersadar, nampaknya saya belum memahami bahwa dalam kegiatan meronce sendiri terdapat beberapa tahap perkembangan.

Kegiatan memasukkan manik-manik ke dalam benang ini ternyata juga merupakan latihan agar anak dapat berkonsentrasi dan bahkan termasuk tahapan pra membaca anak. Lho apa hubungannya ya? Nantinya, anak-anak dapat dikatakan siap untuk belajar membaca jika sudah bisa meronce dengan menggunakan pola. Karena pada tahapan ini, anak sudah bisa mulai mengklasifikasikan sesuatu. Suatu tahapan yang diperlukan ketika anak mulai belajar membaca. Karena dalam kegiatan belajar membaca, anak harus bisa membedakan bentuk huruf yang berbeda-beda.

Apa saja tahapan dalam meronce? Dalam pembelajaran sentra, menurut The Creative Center for Childhood Research and Training, Inc tahapan dalam meronce antara lain sebagai berikut

TAHAP 1
Main mengosongkan/mengisi
Dalam tahapan ini, anak belum meronce tapi bermain
kosong-isi, yaitu mengeluarkan manik-manik ronce
dari wadah dan memasukkannya kembali.

TAHAP 2
Anak belum melihat alat sesuai fungsi, tapi sudah melihat alat sebagai sesuatu yang lain. Misalnya anak menarik hasil ronceannya dan berpura-pura sedang menuntun hewan peliharaan. Mereka belajar merangkai manik-manik dan hasilnya digunakan sebagai bahan untuk bermain peran (misal: kalung, menuntun hewan peliharaan).

TAHAP 3
Merangkai terus menerus
Di tahap ini anak merangkai terus-menerus. Anak sudah mulai melihat/baru menyadari kalau ada warna, bentuk, dan ukuran. Dalam tahap ini anak melihat huruf dengan pandangan bahwa semua huruf sama (contohnya huruf “a” sama dengan huruf dan “b”).

TAHAP 4
Merangkai berdasarkan warna
Pada tahap ini anak sudah mulai melihat adanya satu rangkaian warna dalam bentuk dan ukuran yang berbeda. Dalam tahap ini, anak sudah mulai melihat huruf (misalnya anak sudah mulai kenal dengan huruf “a”).

TAHAP 5
Merangkai berdasarkan bentuk
Dalam tahap ini anak sudah mulai melihat
ada perbedaan bentuk antara huruf “a”
dan “b”.

TAHAP 6
Merangkai berdasarkan pengelompokan bentuk/warna. Anak meronce dengan menggunakan satu bentuk dan berbagai warna.

TAHAP 7
Merangkai berdasarkan warna, bentuk dan ukuran. Di tahap ini anak mulai dapat melakukan seriasi (besar, sedang, kecil) dalam ronceannya. Di tahap 7 ini, anak meronce manik-manik dengan ukuran yang berbeda dan bentuk yang sama. Untuk warna, anak dapat menggunakan warna yang berbeda atau warna yang sama. Pada tahap ini, anak sudah dapat membaca satu kata.

TAHAP 8
Membuat pola sendiri
Anak meronce dengan membuat pola sendiri. Di tahap ini, anak sudah mulai dapat merangkai kata. Anak sudah mulai dapat menulis dan membaca kata.

TAHAP 9
Membaca pola kartu dari bermacam macam tingkat kesulitan. Anak sudah dapat meronce sesuai dengan pola kartu. Di tahap ini, anak dapat membaca kata di luar dirinya/yang bukan merupakan hasil karyanya. Misalnya kata yang ada di dalam buku.

Semua ada tahapannya 😊 Kita tak perlu kesal jika anak belum dapat terlalu lama duduk tenang saat memasukkan manik-manik ke dalam tali atau pipe. Ingatlah bahwa ini merupakan proses yang perlu dilalui oleh anak. Hari ini mungkin ia hanya berhasil memasukkan dua manik-manik bisa jadi besok jumlah kancing yang dimasukkan akan bertambah dan terus bertambah, yang menandakan bahwa semakin hari rentang konsentrasinya pun semakin bertambah. Jadi, teman-teman masuk ke dalam tahapan yang mana?

gelang buatan Faris untuk adiknya

#day3
#tantangan10hari
#Level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative
#BeCreative
#BelajarMeronce
#MeronceKayu
#Homeeducation
#StudyJournal
#BelajarApaSaja
#GfamJourney
#AdventureKids
#NaturalistKids

Perkembangan Kemampuan Menggambar Faris, 4y10m

Sejak kecil Faris memang tidak menonjol di urusan menggambar. Meski dia cepat memahami warna dan bentuk sebelum usia dua tahun tetapi ia kurang bersemangat jika ada kelas menggambar atau mewarnai. Baru-baru ini saja di usia hampir lima tahun ia mulai senang berlatih mewarnai dan menggambar sederhana. Kalau teman-teman bagaimana? Setiap anak memang unik dan berbeda jadi jangan pernah dibanding-bandingkan ya, Mak. Apalagi menyakiti hati mereka dengan mengatakan bahwa gambar mereka seperti benang ruwet 😭 Itu sih saya waktu kecil.

Pernah nggak Mak merasakan kesulitan seperti itu? Apa yang kita anggap mudah, terkadang masih dirasakan sulit oleh anak usia dini. Apa yang salah? Apakah kita memberikan materi yang terlalu sulit? Atau anak yang belum berkembang sesuai harapan?

Dari situs kemendikbud, saya mendapat gambaran mengenai tahapan menggambar bagi anak usia dini (AUD). Menurut standar tingkat pencapaian perkembangan anak (STPPA) Permendiknas Nomor 137 tahun 2014, lingkup perkembangan anak usia dini salah satunya meliputi lingkup seni. Lingkup seni ini meliputi kemampuan mengeksplorasi dan mengekspresikan diri, berimajinasi dengan gerakan, musik, drama, dan beragam bidang seni lainnya (seni lukis, seni rupa, kerajinan), serta kemampuan mengapresiasi karya seni, gerak dan tari, serta drama.

Terkait dengan seni lukis, menurut STPPA pada usia 4-5 tahun, anak tertarik menggambar objek di sekitarnya, seperti gambar mainannya, gambar buah, pohon dan lainnya. Sedangkan untuk STPPA usia 5-6 tahun, maka anak akan menggambar berbagai macam bentuk yang lebih beragam dan melukis dengan berbagai cara dan objek. Hm, mudah-mudahan kemampuan anak-anak bisa sesuai STTPA dan semakin berkembang.

Ternyata, menggambar dan melukis itu berbeda lho. Menggambar adalah aktivitas ekspresif dalam membuat gambar dengan menggunakan kertas sebagai media, sementara alatnya adalah bolpoin, pensil warna, krayon dan pensil. Untuk hasil gambar biasanya tidak ada aliran tertentu.

Sedangkan melukis adalah kegiatan seni dalam menciptakan lukisan dengan menggunakan kanvas sebagai media, sementara alat yang digunakan untuk melukis adalah cat air, cat minyak kuas dan sebagainya. Untuk seni lukis terdapat beberapa aliran yang masing-masing unik. Nah, bagi anak usia dini, menggambar ternyata banyak manfaat. Salah satunya untuk menstimulasi motorik halus anak.

Seperti hari ini, tanpa disuruh anak-anak menggambar sesuka hati. Hasil dari menggambar hari ini menambah hasil karya yang bisa didokumentasikan menjadi portofolio atau rekam jejak kegiatan.

Kata Faris ini adalah gambar seekor landak yang sedang memanjat dahan pohon. Ia mencari makan di siang hari, 😂 kira-kira sudah mirip belum teman?

Sedikit catatan tentang tahapan menggambar agar bisa saya pahami. Menurut para ahli pendidikan anak seperti Kerchensteiner, Cyril Burt, Victor Lowenfeld, bahwa ada pembagian masa dalam menggambar pada tiap tahapan umur anak. Secara umum, masa-masa itu terbagi dalam beberapa bagian:

1) masa mencoreng (usia 2-4 tahun), anak menggores tanpa aturan dan arah. Anak masih belum mampu mengendalikan tangannya;
2) masa pra bagan (usia 4-7 tahun), anak mulai mampu menggambarkan objek yang akan digambar. Seperti menggambar kepala berbentuk lingkaran, tangan dengan bentuk panjang, dan lain-lain. Anak juga sudah mampu mengendalikan arah dan tangannya;
3) masa bagan (usia 7-9 tahun), yaitu anak sudah memahami konsep objek yang akan digambarnya. Anak juga mengetahui apa-apa saja yang mampu menghidupkan gambarnya, seperti penambahan gambar isi rumah ketika menggambar rumah, ada pohon di depan gambar rumah, ada gambar bendera di sekolah, dan lain-lain.

Ada juga ahli pendidikan yang membuat tahapan-tahapan menggambar sebagai berikut.

Tahap 1, coretan awal; coretan acak; coretan-coretan selalu berhubungan seolah-olah “krayon” tidak pernah lepas dari kertas.

Tahap 2, coretan terarah, tanda-tanda tertentu (seperti garis-garis atau titik-titik) diulang-ulang; biasanya berbentuk lonjong; tanda-tanda itu belum berhubungan.

Tahap 3, penambahan pada bentuk- bentuk lonjong; yang sering ditambahkan garis-garis dan titik-titik, biasanya garis-garis menyebar dari bentuk lonjong dan titik-titik di dalam bentuk lonjong.

Tahap 4, mulai muncul gambar “Kepala Besar”; titik-titik dan garis-garis dalam bentuk lonjong menyerupai wajah; mengambang di atas kertas (tahap 1-4 merupakan tahapan untuk kelompok Play Group);

Tahap 5, gambar ”Kepala Besar” dengan mulai muncul gambar kaki mengambang di atas kertas.

Tahap 6, gambar “Kepala Besar” dengan kaki dan bagian-bagian badan lainnya khususnya tangan, mengambang di atas kertas. Muncul tulisan dalam bentuk. Huruf mengambang seperti garis-garis.

Tahap 7, “Kepala Besar” dengan bentuk batang sebagai badan dan anggota-anggota tubuh lainnya, mengambang di atas kertas.

Tahap 8, “Kepala Besar” dengan bentuk batang tertutup, bentuk batang berisi, atau bentuk batang segi tiga sebagai badan dan anggota-anggota tubuh lainnya, mengambang di atas kertas. (Tahap 5-8 merupakan tahapan untuk kelompok TK A)

Tahap 9, gambar rumah sederhana yang menyerupai wajah; objek-objek sederhana lainnya (seperti kupu-kupu atau bunga-bunga), mengambang di atas kertas. Pada tahap ini anak sudah bisa mengendalikan tangannya, sudah mempunyai konsep objek yang digambar. Sehingga pada tahap 9 ini, anak baru diperbolehkan untuk mewarnai.

Tahap 10, bagian paling bawah kertas digunakan sebagai garis dasar dan gambar-gambar objek yang bisa dikenali ditempatkan di situ, objek-objek ditempatkan secara tepat di langit, di samping rumah di bagian paling bawah kertas, dan seterusnya.

Tahap 11, sebuah garis dasar menopang rumah dan/atau objek-objek lain. Konsep tanah dan proporsi gambar dan lukisan mulai terlihat. Variasi gambar mulai kompleks: ada rumah, orang, pohon, bunga, awan, dan binatang.

Tahap 12, garis dasar mulai muncul sebagai garis batas langit, menunjukkan anak mulai sadar ruang dua dimensi; objek-objek diletakkan dengan tepat (Tahap 9-12 merupakan tahapan kelompok TK B). Untuk kelompok TK B, anak harus mewarnai sesuai dengan konsep riilnya, misalkan gambar daun segar berwarna hijau, daun kering berwarna kuning/coklat, dan lain-lain.

Nah, dalam melakukan tiap tahapan menggambar perlu diperhatikan pula hubungannya dengan tema dan bidang pengembangan lain seperti nilai agama, moral, sosial, bahasa, kognitif, dan lain-lain. Tak lupa ciptakan kegiatan menggambar yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, menyenangkan agar makin tumbuh rasa kepercayaan diri anak serta karakter positif lainnya.

Poin penting yang juga perlu diperhatikan dalam kegiatan menggamba adalah interaksi antara anak dan fasilitator. Dalam hal ini guru/orang tua dan anak bisa berkomunikasi, seperti adanya tanggapan guru/fasilitator tentang apa yang digambar anak, anak menceritakan apa yang digambarnya, dan lain-lain. Intinya adalah kegiatan seni menggambar juga tak kalah penting dengan kegiatan lainnya untuk menstimulasi kemampuan awal menulis anak.

Sumber:
• Permendikbud 137 tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini
• Permainan Kreatif Untuk Anak Usia Dini, Anggani Sudono dkk, PT Sarana Bobo Jakarta, 2007.

#day2
#tantangan10hari
#Level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative
#BeCreative
#BelajarMenggambar
#MenggambarBebas
#Homeeducation
#StudyJournal
#BelajarApaSaja
#GfamJourney
#AdventureKids
#NaturalistKids

Catatan Inspirasi Kesehatan : MonLive Longevity & Blue Zones bersama Mr Yeow

Disclaimer: Informasi yang dibagikan di sini hanya untuk tujuan pendidikan. Pendapat ini tidak diberikan sebagai saran medis dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan atau bertentangan dengan keputusan Anda atau saran penyedia layanan kesehatan.

1. Apakah Zona Biru itu?
Blue Zone adalah wilayah di dunia di mana orang hidup sangat panjang, hidup lebih baik dan memiliki tingkat penyakit yang sangat rendah. Dan Buetner, seorang penjelajah dan peneliti, mempelajari dan mengidentifikasi 5 zona biru antara lain:
1. Wilayah Barbagia di Sardinia, Italia
2. Ikaria, Yunani
3. Okinawa, Jepang
4. Semenanjung Nicoya di Costa Rika
5. Loma Linda, California.

2. Apa yang berkontribusi pada umur panjang mereka?
Faktor umum Zona Biru:
1. Diet nabati minimal 95%
– Diet carbo (kompleks) tinggi, rendah protein dan lemak
– Ngemil kacang (nut)
– Legum, 1 cangkir sehari
2. Latihan intensitas rendah secara teratur
3. Interaksi sosial yang baik dengan keluarga, hubungan teman
4. Iman komunal [agama]
5. Punya tujuan hidup
6. Makan sampai hanya 80% kenyang
7. Budaya umur panjang

3. “Latihan intensitas rendah” apa yang mereka lakukan?
Tidak ada zona biru yang memiliki program olahraga teratur seperti kita.
Tetapi, menjadi aktif secara fisik adalah bagian dari gaya hidup mereka. Contoh:
– Mereka berjalan jarak jauh, terkadang membawa beban
– memanjat bukit dan pohon
– Menanam dan memanen makanan mereka sendiri
– mereka menyapu daun, memotong kayu
– Cuci piring dan pakaian dengan tangan
– Mereka memperbaiki rumah mereka sendiri
Yang penting adalah semua bagian tubuh bekerja keras, artinya hingga bernapas dengan cepat atau berkeringat, selama lima hingga sepuluh jam seminggu.

4. Apa faktor penting lain untuk umur panjang sehat mereka?
a) Menjadi spiritual: Ini mungkin karena kesadaran yang dalam akan tujuan, dukungan sosial dan penurunan tingkat depresi.
b) Memiliki tujuan hidup: Ini terkait dengan berkurangnya risiko kematian, mungkin melalui kesejahteraan psikologis.
c) Jejaring sosial yang sehat: di Blue Zone ada rasa ikatan antara muda dan tua, dan di dalam komunitas
d) Mereka cukup tidur: baik di malam hari maupun di siang hari
e) Selain makan lebih sedikit kalori, beberapa Zona Biru mempraktekkan puasa intermiten (selang seling)

5. Apa lagi yang bisa kita pelajari dari Blue Zone?
1. Mereka memiliki gaya hidup sederhana yang dekat dengan alam – yang berarti tingkat stres yang jauh lebih rendah dalam hidup.
2. Mereka tidak mengejar 5-C (uang tunai, mobil, kartu kredit, kondominium, anggota country-club)
3. Mereka terbiasa makan makanan yang sangat sederhana yang sebagian besar disiapkan sendiri dari bahan nabati utuh – mereka tidak pergi ke pusat jajanan, McD atau ke restoran mewah.
4. Jika kita kecanduan makanan gurih, kita dapat membangun kembali kebiasaan kita. Saat selera kita berubah, pilihan makanan kita bisa berubah.

Referensi
1, 2

1. Blue Zones Life: Why, What, Where, Who, How?

20 Habits For a Healthier, Happier Life

3.

What Exercise is Best for Optimal Health and Longevity?

4.
https://www.healthline.com/nutrition/blue-zones#section4

5.
https://www.npr.org/sections/thesalt/2015/04/11/398325030/eating-to-break-100-longevity-diet-tips-from-the-blue-zones

Membaca materi pengantar dari Mr Yeow serasa diguyur hujan ketika berada di padang pasir. Rasanya kembali diingatkan bahwa tubuh ini juga pinjaman dari Allah, apa yang sudah kita berikan untuk tubuh kita. Jangan-jangan selama ini kita masih dzalim pada mereka. Hm, kata Mr Yeow rentang hidup manusia meningkat di seluruh dunia. Termasuk di Singapore, orang hidup lebih lama tetapi mereka menghabiskan 8 tahun terakhir mereka dalam penyakit atau cacat. Menyedihkan dan menderita.

Diskusi malam tadi adalah untuk membantu kita menghindari hal itu. Banyak masalah penuaan yang kita hindari (demensia, nyeri sendi, tidak bisa berjalan, dll). Ini terlihat di zona biru, kebanyakan mereka sudah tua tapi kuat dan berpikiran jernih. Senang sekali saat ini semakin banyak yang aware dengan gaya hidup sehat dan telah mempromosikan kudapan dari makanan utuh yang diproses seminimum mungkin.

Melihat BlueZones, para artisan dan penggerak healthy lifestyle sudah berada di jalur yang benar. Mereka makan sederhana dan makanan alami, kebanyakan disiapkan sendiri. Selera sederhana bukan makan dengan nafsu tetapi makan berkesadaran.

Zona biru membuktikan bahwa diet tinggi karbohidrat, sedikit protein, sedikit lemak meningkatkan usia dan lebih baik, dengan sedikit atau tanpa penyakit. Point bagus, jika kita dapat mengendalikan secara sadar, kita dapat memiliki yang terbaik dari kedua dunia.
• tinggal di kota
• memiliki gizi tinggi
• lebih sedikit racun

Kesulitan yang dihadapi ketika tinggal di kota adalah budaya kita makan di luar, di mana perhatian utama dalam makanan adalah bisnis (bukan nutrisi) persiapan makanan kita salah arah. Kita harus menjaga persiapan makanan kita agar bisa saling membantu melakukan itu dengan lebih baik. Membuat daftar menu harian dan menyimpan potongan satur di kulkas sebagai stok tidaklah cukup. Artinya, kita harus kembali mengajarkan setiap orang atau minimalkan anak dan keluarga kita untuk menyiapkan makanan mudah yang kaya nutrisi atau siapkan untuk mereka.

Kita perlu sadar terlebih dahulu, baru kemudian mencontohkan agar anggota keluarga pun perlahan mengikuti. Kalau melihat budaya makanan masyarakat kita saat ini, kita akan melihat budaya penyakit di usia tua. Namun, saya yakin kita semua dapat berbuat lebih banyak untuk menghindarinya. Kita berkuasa dan punya pilihan. Dan pilihan harus dibuat sekarang, tidak ketika sudah terlambat. Tentu saja lebih dari sekedar diet, ini juga tentang:

– Olahraga
– Kelenturan tubuh dan sirkulasi (aliran qi)
– Tidur
– Sinar matahari
– Detoksifikasi dan air minum
– Buang stress

Saya terlalu sering mendengar dari orang tua bahwa, “ketika tua seperti itu, penuh dengan masalah kesehatan.”

Ketika mereka berpikir seperti itu, mereka melepaskan kekuatan mereka dan berpikir mereka tidak berdaya. Ini semua mempengaruhi mindset. Kalau saja mereka dapat melihat contoh dari zona biru, mereka dapat mendapatkan kembali kekuatan mereka dan membangun kesehatan mereka.

Mr Yeow berharap sharring malam ini membantu membuka pikiran kita pada ‘kenyataan’ yang kita semua hadapi, kualitas tubuh dan kehidupan kita seiring bertambahnya usia. Kita perlu melihat dan hidup dalam gambaran besar dan membuat pilihan yang bijaksana. Zona biru adalah inspirasi sejati. Semoga ke depannya saya dan keluarga tetap semangat untuk terus on track dengan hidup yang lebih sehat, hidup berkualitas dan lebih baik lagi. ❤️

Think Kreatif : Recycle Kertas Koran Jadi Media Semai

Beberapa hari lalu dapet kiriman paket yang di dalamnya dibungkus koran. Daripada dibuang dapat ide dari anak lanang yuklah kita apakan dulu biar nggak apa kali 😂

Penasaran apa ide dari si sulung? Salah satu alternatif pemanfaatan koran bekas ya dengan membuat pot kertas. Cara membuatnya pun sangat mudah dengan bahan yang ada di rumah. Awalnya saya tidak kepikiran kalau kertas koran bisa juga dipakai untuk membuat pot. Gara-gara ide dari faris jadilah saya berselancar di youtube. Ternyata sudah banyak para petani yang memanfaatkan cara ini, permaculture bandung salah satunya. Bagaimana cara membuatnya pun sangat mudah dan sederhana. Alat-alat yang digunakan untuk membuat pot kertas ini antara lain:

1. Gunting
2. Gelas/botol sebagai cetakan
3. Nampan/tray semai

Bahan baku yang diperlukan yaitu kertas atau koran bekas, namanya juga pot kertas hehe.
Kita bisa menggunakan kertas koran bekas, atau kertas apa saja yang penting bekas. Cara buatnya, kita potong terlebih dahulu kertas memanjang membentuk persegi panjang. kemudian gulung kertas menggunakan bantuan gelas atau botol agar bentuk pot sama besar. Kemudian tinggal diatur bagian bawah pot supaya rapat tertutup kertas. Ulangi terus sampai benar-benar mampu membuat pot dari kertas yang rapi dan bagus.

Karena di rumah lagi banyak benih tomat dan cabe yang belum disemai jadilah si koran bekas tadi dipakai sebagai wadah media semai saja. Kalau teman-teman punya kertas bekas lainnya juga boleh loh dicoba, seperti kertas buku, karton/kardus bekas tisu roll bahkan cangkang telur pun bisa dipakai sebagai media tanam pembenihan.

#day1
#tantangan10hari
#Level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative
#BeCreative
#BelajarBerkebun
#BerkebunDiRumah
#TanamSendiriMakananmu
#BerkebunDiLahanSempit
#NatureJournal
#KembaliKeAlam
#GfamJourney
#AdventureKids
#NaturalistKids

Mengulik Profesi Polisi Hutan

Pernah kepikiran nggak sih sama profesi polisi hutan? Jika mendengar kata ‘Polisi’ biasanya yang terlintas di pikiran kita ya polisi yang bertugas di jalan raya untuk mengatur lalu lintas atau menangkap penjahat. Nah, ada satu pertanyaan unik dari anak-anak tentang polisi hutan. Selepas menonton tayangan di National Geography mereka kasak kusuk sibuk mencari informasi seputar polisi hutan.

Tahu nggak sih, ada loh polisi yang tempat bertugasnya di hutan? Namanya Polisi Kehutanan atau biasa disingkat Polhut, nah tugasnya untuk melindungi hutan.

Hutan merupakan kekayaan alam titipan dari Allah Yang Maha Mencipta kepada seluruh mahluk di bumi yang tak ternilai harganya. Sungguh banyak sekali manfaat yang diberikan hutan kepada kita, manusia. Oleh karena itu, hutan harus dikelola dengan sangat baik agar manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi sekarang dan yang akan datang serta yang paling penting kelestarian bumi ini tetap terjaga. Tahu sendiri kan, kondisi hutan saat ini sangat memprihatinkan.

Setelah mencari dari banyak sumber akhirnya saya menemukan sebuah referensi dari website wwf yang lumayan memberikan pencerahan tentang apa dan bagaimana keseharian seseorang yang berprofesi sebagai polisi hutan itu. Jadi, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan itu mengangkat Polisi Hutan atau biasa disebut juga sebagai “ranger”. Mereka tugasnya memberikan perlindungan dan pengamanan hutan, yang meliputi kawasan hutan, hasil hutan, tumbuhan, dan satwa liar di dalamnya. Dikutip dari website wwf, ranger hutan dapat melakukan berbagai tugas, mulai dari pencegahan, penyadartahuan, pembinaan, penyuluhan, hingga menghentikan tindak pidana kehutanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang.

Tambahan wawasan bagi anak-anak, ada juga profesi yang tugasnya menjaga kawasan laut. Namanya Polair (Polisi Air) dan Jagawana Taman Nasional Laut, mereka mengawasi kawasan perairan di Indonesia. Selain dari aparat pemerintah, lembaga konservasi seperti WWF juga memiliki ranger yang merujuk pada individu yang secara profesional terlibat dalam upaya perlindungan dan pengawasan area taman nasional. Tugas mereka antara lain berpatroli, mengawasi kehidupan satwa liar, melawan perburuan liar, bekerja sama dengan masyarakat lokal, memadamkan kebakaran hutan, dan membantu pariwisata. “Jadi, faris tertarik buat magang di hutan?” tanya saya padanya.

“Maulah, mas. Hm, tapi ngapain aja ya tugasnya Ma?”

“Ya patroli, pengawasan dan yang pasti melawan kejahatan yang berhubungan sama hutan.Kalau pas Faris patroli kan bisa aja menemukan aksi kejahatan kaya perburuan liar,illegal logging alias penebangan hutan, dan perusakan habitat. Faris kalao jadi ranger akan ngumpulin atau merekam barang bukti buat diserahkan ke kepolisian.”

Are u ready?💪😊

Belajar Membedakan Lingkaran, Bulat dan Bundar

Hari ini saya mendapat pertanyaan sederhana yang lumayan membuat pusing kepala. Di kala harus mengasuh ketiga bocah tanpa adanya asisten dan si bapak sedang dinas luar kota. Duh, rasanya benar-benar pontang panting. Melelahkan sekali, Mak😅 Rasanya ingin membelah diri saja supaya bisa fokus memenuhi kebutuhan masing-masing anak. Jadi, pertanyaan ini dari Faris. Ia bertanya, “Ma, sebenernya roda mobil itu lingkaran apa bulat sih?”

Di dalam hati saya merenung, nah loh kenapa saya jadi ikutan bingung ucap saya di dalam hati. Memang banyak yang mengira bahwa lingkaran, bulat, dan bundar adalah sama. Termasuk saya, semua jadi rancu padahal udah jelas ketiganya itu berbeda. Hasil dari membaca beberapa referensi akhirnya saya ‘pede’ menjelaskan kepada anak-anak 😂

Kalau ditanya tentang lingkaran itu yang seperti apa? Ketika saya dan Faris belajar bab mengenal bentuk pasti dia sudah sangat fasih menunjuk atau menggambar lingkaran. Lalu apa bedanya lingkaran dengan bulat atau bundar. Pada umumnya, kita tahu bahwa lingkaran adalah gambar dua dimensi. Jadi, lingkaran itu merupakan satu garis utuh yang dihubungkan dari satu titik untuk bertemu ke titik awal secara melingkar. Dan bedanya dengan bulat, lingkaran itu tidak mempunyai isi atau volume.

Kalau lingkaran itu gambar dua dimensi berbeda dengan bulat adalah bentuk tiga dimensi. Bulat itu memiliki dimensi, ada isi, massa, atau volume di setiap sisinya. Contohnya adalah segala jenis yang membentuk bola. Bumi yang kita tempati juga disebut bulat, bukan lingkaran lho😊

Lalu, bagaimana dengan bundar? Bundar sering tertukar dengan bulat. Karena banyak yang menganggap bahwa bulat dan bundar adalah sama. Namun kenyataannya, meski sama-sama memiliki volume dan massa, mereka memiliki perbedaan yang paling mendasar. Kalau bulat membentuk tiga dimensi, sedangkan bundar membentuk benda cakram yang pipih. Contohnya bisa kita lihat pada uang logam, koin, atau pun meja. Masih ingat kan lagu ‘topi saya bundar’ bukan topi saya bulat 😅

Alhamdulillahnya lagi kita bisa pinjam buku di ipusnas yang sesuai dengan pembahasan kita kali ini. Buku ‘aku tahu bentuk lingkaran, setengah lingkaran, bintang’ terbitan Mediatara Semesta karya Weni Rahayu bisa menambah wawasan anak-anak apalagi buat Faris yang visual. Irbadh pun semakin tahu perbedaan bentuk benda-benda dengan membandingkan🤗