Jurnal Mingguan 1 : Produktif dengan Waktu Online Tepat Guna

Alhamdulillah sampai juga perjalanan saya di kelas #bundacekatan ini di tahapan kepompong. MasyaAllah tabarakallah Allah memberikan kemudahan dan kesempatan belajar untuk memperbaiki diri demi pribadi yang lebih baik. Pada jurnal mingguan yang #pertama ini saya memutuskan untuk puasa dari hal-hal yang bisa mengurangi performa saya di medan perang yaitu kegiatan remeh temeh bernama surfing yang biasanya saya lakukan selama ‘break time’. Apalagi saat ini informasi seputar pandemi corona sangat dahsyat gelombangnya, baik yang resmi apalagi berita hoax.

Ceileeh medang perang 來 Iya iya, jadi untuk menghadapi hari yang berkualitas saya memutuskan untuk disiplin terhadap jadwal harian yang sudah saya buat selama sepekan.

Intinya, manajemen waktu yang baik akan menentukan produktifitas diri saya sehari-hari.
Soal manajemen waktu, saya pikir prinsipnya sederhana saja. Segala kegiatan yang kita anggap prioritas tertinggi, ya harus disempatkan untuk dikerjakan. Misalnya nih, memasak. Memasak bagi saya dan keluarga adalah hal yang hukumnya wajib dilakukan setiap hari. Mengingat kondisi saat ini yang sedang darurat sebab wabah yang sudah mulai mengglobal. Selain itu, anak-anak memang lebih senang makan di rumah apalagi diajak masak bersama. Yang kedua adalah kegiatan menulis. Namanya prioritas maka setiap hari saya harus menyempat-nyempatkan diri untuk menulis, karena buat saya menulis itu penting. Terkadang saya mengorbankan sebagian waktu tidur, sebagian waktu beres-beres rumah, bahkan mencuri waktu di sela-sela mendampingi anak, supaya bisa menulis.

Saya merasa hari saya lebih efektif jika bekerja dalam blok-blok waktu. Subuh adalah kandang waktu refleksi pribadi saya. Pagi sampai jam makan siang untuk rutinitas harian keluarga dan mendampingi “kelas” ketiga anak saya. Dari jam tidur siang hingga sore, saya mencicil segala tanggung jawab saya baik online maupun offline sesuai weekly planner yang sudah saya buat setiap akhir pekan untuk pekan selanjutnua. Usai maghrib, saya biasanya berbagi tugas mengurusi anak-anak agar bisa fokus menyelesaikan tugas bebersih dapur.

Kita semua hanya punya waktu 24 jam dalam sehari. Kalau kita menghabiskannya untuk satu kegiatan, berarti kita mengurangi jatah waktu kegiatan lain. Jadi, kembali lagi pada pertanyaan mendasar ini: “Apa yang paling penting untuk kita kerjakan dan bagaimana cara terbaik untuk menyelesaikannya?”.

Satu faktor penting agar hari-hari mulus dan menyenangkan bagi saya yang #workfromhome dengan tiga anak tanpa ART adalah sistem pendukung. Saya sangat terbantu karena suami sepenuhnya kompak soal visi hidup dan soal berbagi tugas mendampingi anak. Kalau agenda saya sedang agak padat deadline, suami biasanya menggantikan saya sebagai fasilitator kelas buat anak-anak.

Apalagi kami tinggal di perantauan, jauh dari keluarga besar membuat saya bisa tenang dan yakin ketika anak-anak bersama papanya. Mereka punya teman dan ada di lingkungan yang aman. Tanpa suami, waktu saya pasti nyaris kurang dan rasa lelah yang teramat sangat.

Sumber daya ibu yang satu dengan ibu lainnya tidak sama. Kalau saya pribadi mesti berdamai dengan keadaan, sembari terus menjernihkan visi yang ingin saya wujudkan. Apa panggilan tertinggi hidup ini? Sambil terus berjalan saya belajar menata jadwal kegiatan yang paling realistis sesuai kondisi keluarga saya.

Perasaan burnout ketika pekerjaan menumpuk dan rasa-rasanya semua urgent, kata suami saya anggaplah itu sebagai alarm yang mengingatkan saya untuk duduk dan merenung sejenak. Berkontemplasi dengan diri. Apa yang saya lakukan ini semua tujuannya untuk apa sih? Mari secara berkala melakukan introspeksi.

Hidup bukan hanya soal efisiensi, tapi juga efektivitas; bukan hanya menyelesaikan sebanyak mungkin to do list, tapi memastikan to do list itu bermakna; bukan hanya jungkir balik menjadi homeeducator sekaligus bekerja sekaligus ini dan itu, tetapi lebih dulu memeriksa mengapa mau menjadi homeeducator, mengapa harus berkarir, mengapa harus ini dan itu.

Sekarang tentang menghandle anak selama berkegiatan dan tidak terlihat terganggu. Menurut saya, kita harus mengakui dulu satu fakta paling mendasar: anak memang tidak berniat menjadi pengganggu. Dia hanya masih kecil, itu saja. Jadi kitalah yang aneh kalau menuntut dia berperilaku seperti orang dewasa.

Saya percaya bahwa saya tidak akan stres jika siap menghadapi kemungkinan terburuk. Dalam hal apapun, termasuk ketika menghadapi mereka sehari-hari. Saat mengajak anak ikut berkegiatan, maka saya wajib mengantisipasi kemungkinan perilakunya. Saya yang mengajak mereka, maka saya bertanggung jawab untuk memastikan mereka bisa merasa nyaman sepanjang kegiatan berlangsung.

Setiap fase selalu berbeda FORMULAnya. Ketika anak saya masih bayi, saya merasa sanggup membawa mereka banyak berkegiatan bahkan keluar rumah. Karena mereka masih tidur belasan jam sehari. Modalnya cuma kain gendongan dan baju menyusui.

Setelah mereka menjadi batita, saya harus antisipasi membawa mainan atau bekal makanan lebih serta #sadardiri untuk mengambil peran yang tidak terlalu sentral dalam kegiatan di luar. Tahu sendiri saya tidak punya pengasuh, sebelum berangkat bersama tiga anak maka saya harus mempersiapkan mental. Bersabar untuk ngider mengikuti polah mereka. Namanya juga balita, kalau diam terus malah nggak wajar, kan?

Melihat frekuensi kegiatan saya bersama dengan anak-anak maka memotong waktu untuk surfing ternyata sangat mempengaruhi performa saya mendampingi anak-anak. Hadir, utuh dan membersamai segala aktivitas mereka. Selain berpuasa surfing, dalam sepekan terakhir saya bertekad untuk lebih disiplin menjalankan blok waktu sesuai dengan jadwal harian saya. Setelah saya terapkan selama sepekan dan rest sehari semua aktivitas bisa berjalan dengan baik sesuai dengan kandang waktunya. Saya tidak menyangka masih sempat berolahraga, memasak makanan fresh dan membuat kudapan tanpa merasa kepayahan. Emosi lebih terkendali dan saya bisa menikmati waktu selama menemani mereka belajar dan bebikinan. Alhamdulillah, ternyata hanya butuh KEMAUAN maka KONSISTENSI akan KEBAHAGIAAN adalah bonusnya. Petakan dulu medan perangnya, baru kita tentukan strateginya ❤️

J8 : Buddy System di Akhir Perjalanan Ulat

Berkesempatan masuk dan bergabung di kelas Bunda Cekatan benar-benar memberikan banyak pengalaman baru bagi saya. Bertemu dengan banyak teman baru yang memiliki banyak ilmu dan jam terbang di bidangnya membuat saya semakin kagum. Di awal pertemuan saya berpikir kelas ini akan terlihat serius sebab mengusung nama ‘cekatan’, apalagi bagi saya yang masih belajar menjadi ibu yang baik. Keder sih, tapi setelah dijalani ternyata bu Septi memberikan panggung untuk semua mahasiswi yang mau dan punya tekad untuk keluar dari zona nyaman namun tetap bahagia menjalani passionnya. Iya! Syarat menjadi mahasiswi kelas bunda cekatan itu adalah memahami diri sehingga bisa menjadi ibu yang lebih bahagia lagi. Benar adanya jika Allah akan memberi lebih banyak lagi ketika kita bersyukur.

Banyak sekali hikmah yang saya dapat hingga pekan ini, termasuk rejeki bertemu sahabat ‘dunia maya’ yang sudah hampir setahun lebih tidak berjumpa dan berdiskusi penuh faedah. Jika dua pekan lalu saya berjumpa seorang kawan baru yang berjodoh hingga menghasilkan proyek antologi buku, pekan ini saya mendapat kesempatan untuk menjadi teman diskusi dengan seseorang yang sudah saya anggap kakak sendiri. Dipertemukan di kelas Shookyu atau saat ini disebut gemar rapi, Mbak Yuliana namanya. Beliau merupakan member IP Kalimantan Selatan yang sangat menginspirasi bagi saya. Ketika berada satu kelas bersamanya saya sering mendapatkan banyak suntikan semangat dan wawasan dalam mendidik anak. Eh, ternyata kami berjodoh untuk menjadi teman diskusi di pekan ini, alhamdulillahilladzi tatimmush sholihat

Mbak Yuliana selama berada di kelas bunda cekatan sangat fokus untuk meningkatkan keterampilannya di bidang desain. MasyaAllah, kegiatan desain ini sungguh menyenangkan jika kita punya bakat disana. Waktu tidak akan terasa jika kita menjalani apa yang kita suka. Berikut ini aliran rasa Mba Yuliana selama perjalanan belajar desain di kelas bunda cekatan

Berikut ini sedikit bekal yang bisa saya berikan sebagai tambahan amunisi selama menjalani challenge 30 hari ke depan. Bismillah, semoga Allah memudahkan perjalanan belajar kita hingga kita siap menjadi kupu-kupu cantik ❤️

#J7 : Kombinasi Makanan Serasi menurut Pola Food Combining

Jurnal saya kali ini merupakan kelanjutan pembahasan seputar kombinasi makanan. Pekan ini, saya ingin mengurai satu per satu pembahasan mengenai kombinasi menu dan contoh menu ideal dalam food combining. Sebagai pengingat diri dan memotivasi semua yang membaca tulisan saya ini.

Kombinasi Makanan


Sebelum membahas tentang bagaimana mengombinasi makanan, sebaiknya kita harus menyamakan pemahaman terlebih dahulu. Banyak orang berpikir bahwa hanya makanan mahal yang pasti baik dan sehat. Referensi kebanyakan dari kita adalah harga daging atau makanan impor memang jelas mahal. Iya, mahal memang tetapi belum tentu ada manfaatnya bagi tubuh kita. Yuk, kita mulai mereset mindset terlebih dahulu bahwa makanan yang baik adalah semua makanan segar yang dapat dicerna dan memenuhi kebutuhan gizi tubuh kita sehari-hari.

Karbohidrat, protein dan lemak adalah zat-zat gizi yang paling berperan mengendalikan setiap proses pencernaan. Zat-zat gizi tersebut disebut zat gizi makro karena diperlukan dalam jumlah besar. Sedangkan vitamin dan mineral disebut zat mikro karena dibutuhkan dalam jumlah kecil.

Hampir semua makanan mengandung unsur karbohidrat, protein dan lemak. Namun, proporsi setiap unsur tidak sama pada setiap makanan. Pada setiap jenis makanan, umumnya hanya terdapat satu unsir gizi makro saja yang sangat dominan. Kondisi ini selaras dengan pencernaan manusia yang tidak memiliki kemampuan mencerna lebih dari satu zat gizi dominan berbeda pada saat bersamaan. Campuran aneka makanan yang unsur-unsur dominannya berbeda akan mengubah komposisi unsur makanan secara total.

Kombinasi Makanan Serasi

1. PROTEIN LEMAK

View this post on Instagram

Breakfast Burritos with Tofu Scramble, Kale, Mushrooms and Tempeh Bacon by @plantbased.traveler 🌯  A recipe perfect for meal-prep! My favorite tofu scramble recipe: 1 package firm tofu 1 medium onion 1/2 tbsp garlic powder 1 tsp turmeric 1 tsp paprika 1/2 to 1 tsp kala namak salt Splash of coconut aminos Freshly ground black pepper Plus: Some avocado or other cooking oil of choice 1-2 cups of mushrooms and kale each Wraps of choice Ketchup/hot sauce/salsa Tempeh bacon _______________________________________________________ Finely dice onion and fry it with a little bit of avocado oil until fragrant and lightly browned. Clean, wash and cut up mushrooms and kale. Add mushrooms to the pan and cook for about 5 minutes. When mushrooms are starting to brown, add kale and sauté for a few minutes until tender. Mash tofu into crumbles with a fork, add to the pan together with all of the spices and continued cooking until everything is evenly heated through. (If you want you can add a little bit of vegan cheese at this point to make it even more scrumptious 😋!) Fill wraps with the tofu scramble, veggies, tempeh bacon and if you’re like me a little bit of ketchup and hot sauce and enjoy 🌱 ​. ​Hungry for new plant-based recipes to try at home? Hit the link in our bio to sign up to our weekly newsletter, and we'll send 7 of our top recipes to your inbox each Monday! ​ ​#healthy #veganfood #whatveganseat #plantbasedfood #veganrecipes #veganrecipe #veganbowls #plantbased #vegansofig #veganfoodshare

A post shared by Vegan Bowls™ | Vegan Recipes (@veganbowls) on


Kombinasi ini merupakan kombinasi alami yang ada pada makanan yang unsur dominannya protein. Lemak fungsinya menghambat laju pencernaan agar protein mempunyai lebih banyak waktu untuk dicerna di dalam lambung.
Contohnya :
– ayam, ikan, daging panggang, bakar, rebus atau kukus tanpa tambahan minyak atau lemak.
– kacang-kacangan yang dikukus, direbus atau disangrai.

2. PATI LEMAK

View this post on Instagram

​Spiced Fries with Roasted Garlic Hummus by @plantbased.traveler 🧡 Delicious finger food to share with friends! ​Recipe: 2 sweet potatoes 2 yellow potatoes 1-2 tbsp grape seed oil 1-2 tbsp French fries spice mix ____________________________________________ Preheat oven to 400 F (200 C). Cut peeled potatoes into even strips. Cut them as evenly as possible. Choosing potatoes of similar shape and size helps! In a bowl mix together oil and spices. Add potatoes and use your hands to toss them in the spice mix until everything is evenly covered. Bake them for 50-60 mins on a lined baking sheet, giving them a stir once or twice in between. Enjoy ____________________________________________ For the hummus I blended up about 2 cups of chickpeas, 2 tbsp tahini, juice of 1 lemon, salt, cumin, paprika and 4 garlic cloves roasted with a little bit of oil until fragrant and some water. French fries spice consists of: Salt, onion, paprika, pepper, garlic, curry mix ​. ​Looking for more delicious plant-based recipes? Check out our Vegan Bowls cookbook at coconutbowls.com/cookbook – link in bio. ​ ​#whatveganseat #plantbased #healthy #veganrecipe #veganbowls #veganfoodshare #veganfood #veganrecipes #plantbasedfood #vegansofig

A post shared by Vegan Bowls™ | Vegan Recipes (@veganbowls) on


Secara alami, pati sudah mengandung protein dan lemak. Oleh karena itu, jangan menggunakan lemak berlebihan pada makanan tinggi pati, misalnya santan kental pada kolak ubi. Lemak bisa kita tambahkan sedikit saja sebagai penambah cita rasa, contohnya
-roti + sedikit mentega
-kentang tumbuk + sedikit krim
-kentang goreng (asal minyak yang digunakan baru dan minyak tak jenuh)

3.LEMAK ASAM


Kombinasi ini termasuk serasi jika kadar lemaknya rendah, asam berguna untuk melarutkan lemak sedangkan enzim pencerna lemak membutuhkan pH asam (rendah). Contohnya sedikit air jeruk nipis atau cuka dapat mengencerkan lemak sehingga lebih mudah dicerna. Kombinasi yang serasi misalnya
-minyak saus selada (oil dressing) + sedikit air jeruk nipis
-kacang-kacangan + buah rasa asam

3. GULA ASAM


Kombinasi ini merupakan kombinasi alami pada buah-buahan sehingga semua makanan manis dianggap serasi dengan makanan asam. Kombinasi serasi antara gula dan asam contohnya :
-yogurt murni + madu
-yogurt murni + buah-buahan
-buah asam + buah manis.

4. PATI PATI

View this post on Instagram

​Sweet and Spicy Udon Noodle Stir-Fry by @thefoodietakesflight 🤤 Tag someone who loves a good noodle stir-fry! Recipe below: ​ ​Sweet and Spicy Udon Noodle Stir-Fry Good for 2-3 servings _ 400g (2 cakes) cooked udon noodles* 1 red bell pepper, sliced into strips 1 240g block extra firm tofu, drained and sliced into strips ½ large onion, sliced into strips 1 small carrot, sliced into strips 4 cups (200g) shredded cabbage 1 tbsp neutral oil Sesame seeds, for garnishing Chopped spring onions, for garnishing *Note: Feel free to use other noodles if you’d like! _ Sauce Ingredients 2 tbsp soy sauce or liquid aminos 1 ½ tsp sriracha, adjust according to desired spice ¼ cup room temp. water 3 tbsp coconut sugar 1 tsp sesame oil ½ tbsp cornstarch _ 1. Heat the oven to 350F. On a lined baking tray, bake the tofu until lightly golden for around 25 mins. You can opt to pan fry the tofu in some oil if you’d like. 2. Mix all the sauce ingredients together. Make sure the cornstarch is diluted. 3. Heat a pan. Add in 1 tbsp oil. Sauté the onions until tender. Add in the bell peppers, carrots, and cabbage. Sauté until cooked, around 10 minutes. 4. Add in the tofu and cooked noodles. Pour in the sauce mixture. Sauté for another 3-4 minutes until the noodles have absorbed the sauce. Turn off heat and then garnish with some sesame seeds and spring onions, if desired. Enjoy while hot! ​ ​Hungry for new plant-based recipes to try at home? Hit the link in our bio to sign up to our weekly newsletter, and we'll send 7 of our top recipes to your inbox each Monday! ​ ​#healthy #veganfoodshare #veganbowls #plantbased #veganrecipes #whatveganseat #vegansofig #veganrecipe #veganfood #plantbasedfood

A post shared by Vegan Bowls™ | Vegan Recipes (@veganbowls) on

Pati bisa dikonsumsi lebih dari satu macam karena total protein dan lemak daari kombinasi makanan ini tetap jaih lebih kecil dibandingkan dengan jumlah patinya sendiri. Meski serasi tetap lebih baik jika tidak dikonsumsi berlebihan.
Contohnya :
-nasi + bihun goreng tanpa daging
-nasi + kentang bumbu balado
-nasi + perkedel kentang

5. PROTEIN NABATI PROTEIN NABATI

View this post on Instagram

Chickpea Carrot Bowl by @livinlaveganlife 💛🥕 So filling and comforting! Check out the recipe below! ⁣ ⁣ 𝘐𝘯𝘨𝘳𝘦𝘥𝘪𝘦𝘯𝘵𝘴⁣ – 3 cups of raw chickpeas, soaked overnight⁣ – 2 cups of water⁣ – 3 cups of vegetable broth⁣ – 4 garlic cloves minced⁣ – 4 bay leaves⁣ – 2 tbs of olive oil⁣ – 2 cups of chopped carrots⁣ – 1 tsp of turmeric⁣ – 1/2 tsp of ginger powder⁣ – 1/4 tsp of cumin⁣ – 1/2 tsp of dried thyme⁣ – 1 1/2 cups of peas⁣ – Salt/pepper to taste⁣ ⁣ 𝘐𝘯𝘴𝘵𝘳𝘶𝘤𝘵𝘪𝘰𝘯𝘴⁣ 1. In a hot pan, place chickpeas, water, vegetable broth, garlic, bay leaves, and oil. Cook for approximately 40 minutes or until chickpeas are soft.⁣ 2. Add chopped carrots, turmeric, ginger powder, cumin and thyme . Cook for another 10 minutes.⁣ 3. 5 minutes before serving, add peas and salt/pepper and stir.⁣ 4. Enjoy it 🙂 ​. ​Hungry for more plant-based recipes? Our sister site @plantd.co is a fantastic source of plant-based education and recipe inspo! Head on over and explore www.plantd.co. ​ ​#veganfood #veganrecipe #veganfoodshare #veganbowls #plantbased #whatveganseat #healthy #plantbasedfood #veganrecipes #vegansofig

A post shared by Vegan Bowls™ | Vegan Recipes (@veganbowls) on

Lemak pada protein nabati cenderung rendah sehingga proses pencernaannya tidak selama protein hewani. Namun, sebaiknya kita tetap menghindari penambahan lemak pada kombinasi ini dengan cara pengolahan yang tidak memakai minyak atau lemak yang berlebihan. Kombinasi yang dianjurkan adalah kombinasi antara biji-bijian atau padi-padian dengan polong-polongan atau kacang-kacangan. Contohnya
-nasi merah + tahu/tempe
-nasi+perkedel kacang merah
-sup aneka biji dan polong

Fun Camping Ulat di Kelas Bunda Cekatan

Alhamdulillah tidak terasa perjalanan kelas ulat sudah sampai pada pekan kelima. Pada pekan ini saya bertemu dan berjejaring dengan banyak teman baru dari kelas bunda cekatan. MasyaAllah seru sekali cerita yang saya dapatkan dari mereka. Sebelum cerita panjang lebar, ketika ditanya manakah keluarga favorit saya selama berada di kelas bunda cekatan? Jawaban saya adalah kelas seni, olahraga, kesehatan dan herbal. Keluarga senior kebal bagi saya bukan hanya sekedar tempat untuk belajar dan berdiskusi. Disini saya pun kena trigger dari mbak Anggita yang sudah terlebih dahulu menjadi runner setahun belakangan. Sejak melahirkan si bungsu saya belum memulai berolahraga kembali. Nah, setelah kecemplung di keluarga ini mendadak saya semangat lagi untuk mulai berlari gara-gara challenge #fromwalkto5krun. Iya, minimal menyusul anak sulung dan suami yang sudah terlebih dahulu menjadi runner antar pulau.

Setelah berkenalan dan berjejaring dengan banyak teman dunia maya akhirnya saya punya satu kesimpulan bahwa semua keluarga di kelas bunda cekatan ini penuh manfaat. Oleh karena itulah semua mahasiswa jadi pengen mencicip semua ilmu yang disajikan masing-masing keluarga. Dari 15 teman yang saya dapatkan kebanyakan memilih keluarga seni, olahraga, kesehatan dan herbal kemudian disusul kelas cooking dan manajemen emosi. Alasan terkuat ibu ibu memilih kelas ini selain karena makanan utama yang dibutuhkan sesuai peta belajar juga lebih karena alasan ingin menyediakan makanan sehat dan tubuh yang bugar agar dapat menjalani peran ibu dalam keluarga masing-masing. Kalau kamu suka keluarga mana dan kenapa?

#J5 : Apa itu Simplisia dan Teknik Meramu Herbal

Alhamdulillah, akhirnya hari ini saya mendapat tambahan amunisi untuk mengisi keranjang ilmu seputar herbal. Hari ini mbak Farah berbagi seputar aturan dasar membuat obat tradisional. Sama seperti yang sudah saya tulis di jurnal kemarin. Sebelum membuat ramuan tradisioanal ada aturan aturan dasar yang harus diperhatikan.

Di sekitar kita ini tersedia beraneka ragam jenis tanaman obat yang bisa dijadikan bahan ramuan herbal. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat ramuan herbal disebut “simplisia”. Sederhananya, simplisia adalah bahan dari alam yang digunakan untuk obat, tetapi belum diolah atau sudah diolah secara sederhana. Hm, banyak istilah yang baru saya tahu (ketahuan belum selesai baca referensinya).

Ada tiga golongan simplisia yaitu simplisia nabati, hewani, dan mineral. Yang sering kali digunakan untuk bahan ramuan tradisional adalah simplisia nabati. Simplisia nabati diperoleh dari tanaman, dapat berupa tanaman utuh, bagian tertentu dari tanaman (seperti daun, buah, bunga, biji, dan kulit buah), atau dapat berupa eksudat tanaman.

Jadi, sebelum mulai mencoba meramu herbal sendiri, kita harus pelajari bagaimana cara meramu yang baik dan benar. Yang paling penting adalah kita harus tahu jenis-jenis tanaman yang bisa dijadikan obat. Selain itu, harus tahu sifat kandungan dasarnya. Apakah bersifat anti bakteri, sedatif (penenang), anthelmintik (peluruh cacing usus), diaforetik (peluruh keringat), diuretik (Peluruh air seni), antipiretik (Penurun panas) dst.

Membuat ramuan herbal idealnya didasarkan atas diagnosis penyakit yang diderita dan sebaiknya juga disesuaikan dengan gejala-gejala yang dialami. Karena tidak semua orang dengan penyakit yang sama diobati dengan obat yang sama. Harus disesuaikan dengan sindrom pasien. Misal, seorang pasien penderita sakit perut dengan sindrom panas akan diresepkan obat-obatan yang akan membantu menurunkan panasnya selain mengobati sakit perutnya. Akan berbeda ketika seorang pasien penderita sakit perut dengan sindrom dingin, akan diberikan obat-obatan untuk menghangatkan badannya selain obat untuk mengobati sakit perutnya. Nah, kondisi-kondisi khusus seperti ini yang perlu dipelajari dan dipahami saya sebagai pemula.

Bagaimana Membuat Ramuan Tradisional?

Menurut mbak Farah, berbagai simplisia atau bahan ramuan herbal yang digunakan biasanya harus disatukan menjadi satu ramuan. Karena itu kita harus paham bagaimana cara meracik serta bagaimana cara meminum atau mengonsumsi ramuan tersebut. Pada umumnya terdapat tiga jenis ramuan tradisional yaitu dalam bentuk rebusan, dalam bentuk bubuk, dan dalam bentuk kapsul/pil/tablet. Kemungkinan besar yang akan paling sering dikonsumsi adalah rebusan. Sebab cara membuat ramuan tradisional yang paling sering dan paling mudah ialah dengan direbus.

Selain rebusan, cara membuat ramuan herbal yang juga mudah yaitu dengan dijadikan bubuk. Bentuk-bentuk ramuan lain, seperti tablet/pil/kapsul dan ekstraksi, umumnya diproduksi oleh industrsi herbal, baik industri rumahan maupun pabrik farmasi besar.

1. Cara Membuat Ramuan Tradisional: Direbus

Cara merebus yang biasa dilakukan ialah dengan memasukkan simplisia ke dalam wadah/pot, kemudian ditambahkan air secukupnya sampai simplisia terendam. Lalu ditambahkan air 1 mangkuk lagi agar permukaan air kurang-lebih 2 cm di atas simplisia. Aduk-aduk sebentar dan biarkan terendam hingga 20 menit supaya simplisia jadi lebih lembut dan basah.

Sewaktu merebus simplisia, nyalakan api secara maksimal sampai airnya mendidih, lalu kecilkan api seminimal mungkin agar air tidak meluap dan agar tidak cepat menguap. Agar zat aktif simplisia yang mudah menguap tidak menghilang, pot/wadah harus ditutup dan tidak sering dibuka selama proses perebusan. Supaya ramuan herbal yang dihasilkan khasiatnya optimal, ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain:

• Wadah/Pot yang Digunakan

Wadah atau pot yang digunakan untuk merebus bahan-bahan ramuan herbal sebaiknya tidak terbuat dari besi atau perunggu. Tujuannya agar tidak terjadi reaksi kimiawi antara besi/perunggu dengan simplisia dan agar hasil rebusannya tidak beracun. Pot yang dianjurkan digunakan untuk merebus herbal yaitu antara lain yang terbuat dari tanah liat, dilapisi email, dari keramik, atau dari gelas tahan panas. Pada umumnya jenis pot yang dipakai untuk merebus herbal adalah yang terbuat dari tanah liat.

• Jumlah Air untuk Merebus

Jumlah air untuk merebus ramuan sudah pasti berbeda-beda, disesuaikan dengan jenis simplisia dan besarnya nyala api yang digunakan. Ada sejumlah simplisia yang lebih banyak menyerap air sehingga butuh air lebih banyak untuk merebusnya. Dan jika ramuan direbus di atas api besar, artinya kita butuh air lebih banyak daripada menggunakan api kecil.

• Lama Waktu Perebusan

Lamanya waktu merebus perlu disesuaikan dengan jenis simplisia yang digunakan. Sebagai contoh, simplisia yang bersifat diaforetik (peluruh keringat) dapat terus direbus di atas api besar selama 10 menit setelah air mendidih. Tanaman obat yang bersifat tonik (memulihkan, memperkuat, dan menyegarkan badan) dapat direbus sampai ½ jam di atas api kecil. Adakalanya simplisia yang berat atau keras, seperti simplisia kayu atau akar, perlu direbus terlebih dulu selama 10 – 20 menit dengan api kecil. Tujuannya supaya unsur-unsur zat aktifnya benar-benar terlarut saat air dididihkan. Baru setelah itu ditambahkan simplisia yang bersifat aromatik (memiliki aroma)—jika ada.

Terakhir baru ditambahkan simplisia yang ringan, seperti daun dan bunga, yang waktu perebusannya hanya butuh kira-kira 5 menit. Setelah proses perebusan selesai, hasil rebusannya kemudian disaring. Setelah airnya sudah mendingin, ramuan herbal siap diminum.

 
2. Cara Membuat Ramuan Tradisional: Dijadikan Bubuk

Cara membuat ramuan herbal bubuk umumnya dengan cara menumbuk simplisia hingga halus. Cara membuat ramuan tradisional dalam bentuk bubuk dianggap lebih praktis karena gampang disimpan, dibawa, dan diminum. Ramuan bubuk juga lebih ekonomis daripada rebusan. Sekali rebusan bisa memenuhi kebutuhan untuk 1 hari. Sedangkan menumbuk herbal jadi bubuk, itu bisa digunakan beberapa minggu hingga bulan asalkan disimpan dengan baik.

Untuk mengonsumsi ramuan tradisional bubuk biasanya dengan cara menyeduhnya. Cara menyeduhnya yaitu dengan memasukkan bubuk ke dalam cangkir, lalu tuangkan air mendidih, dan aduk-aduk bila perlu. Biasanya air seduhan diminum selagi masih hangat. Apabila tersisa residu atau ampasnya, bisa dituangkan lagi sedikit air, kemudian diminum lagi sampai tidak ada residu lagi yang tersisa. Jika tidak ingin menghabiskan ampasnya, minum saja air beningnya, sementara ampasnya dibuang.

 
3. Cara Membuat Ramuan Tradisional: Dijadikan Tablet/Pil/Kapsul

Cara membuat ramuan herbal ini masih berkaitan dengan ramuan dalam bentuk bubuk. Selain untuk diseduh, bubuk simplisia dari tanaman obat dapat dipadatkan menjadi tablet/pil, atau dikemas dalam kapsul. Ramuan yang sudah dijadikan tablet memiliki beberapa keuntungan, misalnya mudah dibawa dan dikonsumsi. Tetapi ada juga kekurangannya, yakni zat aktifnya lebih lambat diserap tubuh sehingga efek khasiatnya lebih lambat dirasakan. Oleh sebab itu, herbal tablet lebih baik dikonsumsi untuk kasus penyakit defisiensi (kekurangan nutrisi) atau penyakit kronis (diderita dalam waktu lama).

4. Cara Membuat Ramuan Tradisional: Ekstraksi

Herbal dalam bentuk ekstrak merupakan yang paling tinggi khasiatnya dibandingkan dengan bentuk-bentuk ramuan herbal lainnya. Itu karena proses pembuatan ekstrak (ekstraksi) dilakukan oleh pabrik-pabrik farmasi besar dan harus mengikuti persyaratan yang sudah ditentukan, yang disebut Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB).

Cara membuat ramuan herbal ekstrak ini dilakukan dengan menarik keluar zat aktif dari simplisia tumbuhan obat. Kemudian zat aktif itu dikemas dengan baik, biasanya di dalam kapsul. Proses ekstraksi itu cukup rumit sehingga tidak bisa dilakukan sendiri di rumah. Bila ingin membeli suatu produk herbal dalam bentuk ekstrak, pastikan produk itu sudah terdaftar di BPOM RI dan ikutilah petunjuk pemakaian yang tertera di kemasannya.

5. Istilah dalam Cara Membuat Ramuan Herbal

Merebus:

Memasukkan bahan ramuan (simplisia) ke dalam wadah lalu direndam dengan air, air beras, atau cairan lainnya sampai permukaan cairan kurang-lebih 2 cm di atas simplisia. Kemudian direbus sampai cairan tersisa separuhnya atau sepertiga dari jumlah asalnya. Perebusan juga disesuaikan dengan daya larut (mudah atau sulit untuk larut) dari zat aktif dari simplisia tersebut.

6. Memipis:

Menghaluskan atau melumatkan simplisia menggunakan batu giling dan pipisan. 

7. Menggiling:

Menghaluskan atau melumatkan simplisia menggunakan alat giling.

8. Menggongseng:

Menggoreng atau menyangrai simplisia tanpa minyak.

9. Mengembunkan:

Membiarkan ramuan berupa air teh atau air rebusan di dalam wadah, seperti cangkir, di ruang terbuka dari malam sampai pagi hari besoknya.

10. Menyeduh:

Menyiram atau mencampur simplisia dengan air panas.

11. Tim:

Mengukus simplisia menggunakan panci khusus tim, biasanya 2 tingkat. Bagian bawahnya diisi air dan bagian atasnya untuk menaruh simplisia dalam mangkuk. Panci khusus ini lalu dipanaskan di atas api agar bagian bawahnya mengeluarkan uap panas dan memanasi simplisia di bagian atasnya.

Tips Menyimpan Simplisia

Simplisia Segar:

Jika tidak langsung mengolah bahan-bahan ramuan yang masih segar, simpanlah dalam kulkas. Simplisia bunga, daun, buah, dan kulit buah biasanya dapat disimpan 2 – 3 hari. Simplisia kayu, kulit kayu, dan akar biasanya bertahan sampai 2 – 3 minggu. Pastikan untuk menyimpannya di dalam kantung atau stoples kaca.

Simplisia Kering:

Simplisia yang sudah dikeringkan dapat bertahan hingga 2 – 4 tahun jika disimpan dengan benar. Tetapi tingkat ketahananya juga bergantung pada jenis herbal itu. Yang pasti, saat mengeringkan simplisia, pastikan sampai benar-benar kering. Jika tidak, nantinya simplisia akan ditumbuhi jamur.

Simpan simplisia di stoples kaca atau kantung yang kedap udara dan di tempat yang sejuk, gelap, dan kering. Simplisia yang rapuh, seperti bunga dan daun, daya tahannya lebih rendah daripada simplisia yang keras seperti biji atau akar.

Simplisia yang banyak mengandung minyak asiri, seperti pepermint, akan lebih cepat kehilangan kesegarannya daripada simplisia yang sedikit mengandung minyak, seperti daun sendok.

Simplisia Bubuk:

Begitu simplisia dijadikan bubuk, itu akan lebih cepat kehilangan kesegarannya. Simplisia bubuk paling baik disimpan dalam stoples kaca yang dibungkus koran atau kertas buram lainnya di dalam kulkas atau freezer. Jika disimpan dengan baik, simplisia bubuk dapat bertahan hingga 2 – 3 bulan.

Referensi :

Dalimartha, Setiawan. 2008. 1001 Resep Herbal. Jakarta: Penebar Swadaya

Visser, Meagan. Using Herbs: How to Store Herbs. Published: 2015-01-28. URL: https://www.growingupherbal.com/how-to-store-herbs/. Accessed: 2019-02-20. (Archived in WebCite®)

https://www.deherba.com/ramuan-tradisional.html

Nurzaman, Prof. Dr. Muhammad. Modul Diktat Herbal Waras Awak.

#J4 : Catatan Belajar Pengetahuan Dasar Seputar Tanaman Obat Keluarga

Tak terasa sudah satu pekan saya berada di dalam keluarga senior kebal. Banyak sekali ilmu dan metode yang kami diskusikan serta ATM. Beberapa ada yang memiliki peta yang hampir sama dengan saya namun beberapa anggota keluarga kami memiliki progress yang berbeda masing-masing. Ada yang masih baru akan mulai berhijrah ke pola makan yang lebih baik. Ada yang sedang fokus diet karena berat badan yang berlebih setelah melahirkan (problematika kebanyakan perempuan). Ada juga yang baru akan hijrah karena sakit dan ada yang menekuni ilmu kesehatan herbal serta thibun nabawi. Disini saya belum menemukan teman diskusi yang sama-sama ingin mendalami pola makan food combining. Kebanyakan dari teman-teman maish ingin mencoba metode ini itu, diet ini itu. Mulai dari JSR hingga keto bahkan menghitung kebutuhan kalori tubuh. Menurut saya itu terlalu rumit dan kurang fleksibel untuk dijalankan. Lebih baik mereset pikiran, memilih pola makan yang cocok dengan tubuh dan berolahraga teratur.

Pekan ini saya akan mengisi jurnal belajar saya dengan menambah makanan melalui referensi belajar saya sendiri yaitu seputar herbal. Sejujurnya saya menuliskan subtopik herbal dalam mind mapping saya sebagai pijakan utama saya mendalami cabang ilmu ini. Kalau ditanya kenapa sih tertarik mempelajari seputar tanaman obat keluarga. Yang pertama saya memang sudah sangat akrab dengan beberapa tanaman obat pada umumnya sebab semasa kecil, alm kakung saya mempunya kebun di sebelah rumah yang sangat lengkap isinya. Bisa dibilang kebun itu merupakan kotak P3K yang siap sedia digunakan ketika penghuni rumah membutuhkan obat saat sakit. Jadi, tidak ada kata terlambat bagi saya untuk mempelajari hal ini kembali.

Seperti yang kita tahu, obat herbal sudah muncul sejak zaman nenek moyang kita. Kurang lebih sekitar puluhan ribu tahun lalu. Sejak zaman dulu, manusia memperoleh makanan dari hutan, serangga, sayuran hijau, rumput, kacang-kacangan, dan buah-buahan. Seiring berkembangnya teknologi, manusia kini memiliki cara hidup baru berbeda yang lebih beragam.

Nah, ngomongin obat herbal kita sudah lama mengenal sejak zaman nenek buyut kita berabad-abad lalu. Memang cara kerjanya lebih lambat dari obat kimia, tetapi bersifat menyembuhkan. Bahkan, WHO pun merekomendasikan penggunaan obat tradisional dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit terutama untuk penyakit kronis, degeneratif serta kanker.

Namun demikian penggunaan tanaman obat tetap harus tepat yaitu memperhatikan dosis, terutama jika berasal dari tanaman beracun. Selain itu, ibu hamil juga tidak boleh sembarangan mengonsumsi tanaman obat. Penggunaan tepat dalam hal ini meliputi ;

✔️Ketepatan jenis penyakit dengan bahan obat yang digunakan.
✔️Ketepatan cara penggunaan
✔️Ketepatan dosis
✔️Ketepatan waktu penggunaan.
✔️Ketepatan informasi
✔️Ketepatan pemilihan.

Sebelum jauh membahas resep herbal, saya ingin menuliskan beberapa catatan penting seputar cara mengonsumsi herbal yang saya dapatkan setelah belajar bersama dr. Prapti. Ada beberapa petunjuk umum dalam tata laksana pemanfaatan TOGA diantaranya

1. Syarat Bahan
Dakam memilih bahan ramuan tanaman obat, seperti akar, rimpang, umbi, kulit batang, kayu, daun, bunga, buah, atau seluruh tanaman (herba) harus memperhatikan :


a. Bahan dan buah dalam kondisi segar, tidak keriput, telah tua/matang/masak sempurna.
b. Kulit batang tidak retak
c. Daun, bunga, kulit, umbi berwarna cerah tidak berubah warna atau layu.
d. Masih dalam keadaan utuh.
e. Tidak rusak oleh hama dan penyakit tanaman lainnya,tidak bercendawan atau berjamur atau akar yang berlumut.
f. Bahan yang digunakan harus dicuci dengan air bersih dan mengalir.
g. Pembuatan ramuan menggunakan air bersih.

2. Ukuran dan Takaran
Berikut ini dan ukuran dan takaran yang biasa digunakan dalam meracik TOGA, yaitu :
1 gelas = 200cc
1 cangkir = 100cc
1 sdm = 15cc
1sdt = 5cc
1 jari = 1 ukuran jari telunjuk pengguna
1 iris = irisan dengan ketebalan 5-7mm
1 jimpit = diambil dengan ibu jari dan telunjuk.
1 jumput = diambil dengan ujung kelima jari.

3. Cara Meramu
Ketika kita meramu bahan tanaman obat keluarga ada beberapa hal yag harus diperhatikan diantaranya :

a. Peralatan yang digunakan untuk membuat ramuan obat adalah
✔️Periuk/kuali dari tanah liat atau panci dari bahan gelas/kaca, email atau stainless steel.
✔️Spatula/pengaduk yang terbuat dari kayu.
✔️Saringan dari bahan kain, plastik atau nilon.
✔️Pisau stainless.

b. Pembuatan ramuan obat tradisional dari bahan-bahan segar dilakukan dengan mendidihkan air terlebih dahulu, kemudian bahan dimasukkan dan didiamkan selama 10-15 menit di atas api kecil.

C. Urutan memasukkan bahan tanaman obat dalam merebus, dahulukan yang keras yaitu batang kayu, kulit dan akar setelah itu masukkan bahan yang lebih lunak yaitu umbi, bunga dan daun.

d. Jangan menggunakan peralatan dari bahan aluminium, timah atau tembaga karena mudah bereaksi dengan tanaman obat sehingga dapat meracuni dan mengurangi khasiat tanaman obat tersebut.

Referensi :

-booklet buku saku asuhan toga dan akupresur

-modul Herbal Medicine Class bersama dr. Prapti Utami

#janganlupabahagia
#jurnalminggu5
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

#J3 : Bertemu Keluarga Baru Jangan Lupa Pedoman Peta

Pekan ini saya belajar banyak insight dari Mak Ika yang juga wakil rektor di Institut IP. Jadi, portofolio merupakan salah satu topik belajar bunda satu putra dan putri ini. Menarik untuk dikulik materi seputar portofolio yang dibuat dibawakan oleh Mak Ika. Betapa tekun dan konsistensinya membuat portofolio anak. Portofolio juga salah satu sub topik dalam topik Homeeducation yang ingin saya pelajari sepanjang tahun ini. Menarik tetapi belum mendesak. Jadi, challenge yang diberikan untuk pekan ini adalah kita memilih satu topik belajar yang mendesak dan ingin segera dipelajari. Perjalanan mencari keluarga ini ternyata lumayan menguras waktu karena saya mencoba untuk scroll facebook group. Manjat di beberapa feed dan itu melelahkan sekali. Terima kasih untuk tim institut yang akhirnya mengkategorikan dan membuat link keluarga sebagai wadah setiap dari kita agar berkumpul menjadi satu. MasyaAllah

Setelah mengisi list topik belajar melalui HIMA Regional, saya akhirnya berjumpa dengan keluarga yang memiliki topik belajar yang nyambung. Saya akhirnya bergabung di grup seni, olahraga, kesehatan dan herbal yang dikawal oleh Mba Deasy sebagai leader alias kepala keluarga. Sebelumnyaa saya berniat untuk bergabung ke grup cooking tetapi sepertinya kurang cocok karena disana kemungkinan besar topik belajar yang dipilih adalah masak cepat, food preparation dan baking yang masih lazim menggunakan bahan yang kurang thayyib.

Bertemu dengan berbagai ibu hebat dari banyak latar belakang yang bergabung di grup ini membuat saya kaya wawasan. Dikarenakan grup ini topik belajarnya beragam maka Mba Deasy sebagai KK memberikan ide agar kita menyampaik kebutuhan makanan kita apa per kategori. Setelah mengerucut menjadi grup makanan sehat berikut ini daftar  di antaranya sebagai berikut :

1. Makro nutrien
2. Nutrisi sesuai tumbuh kembang anak dan ibu hamil
3. Miracle enzym (kesehatan usus)
4. Clean Eating
5. JSR
6. Food Combining
7. Food Preserving
8. Naturopathic
9. Menyusun menu harian sesuai kebutuhan kalori keluarga
10. Contoh menu raw food, fresh food, real food
11. Contoh menu bekal anak dg bento
12. Thibbun Nabawi

Kebutuhan saya belajar dalam topik ini berawal dari sebuah alasan kuat melihat realita betapa menu makanan yang dikonsumsi orang jaman now umumnya tinggi lemak jenuh dan karbohidrat halus atau olahan,tetapi kurang karbohidrat alami dan lemak sehat. Sumber karbohidrat yang dipilih kebanyakan karbohidrat yang diproses seperti nasi putih dan juga gula pasir, juga produk tepung putih dalam bentuk roti dan kue-kue. Buah dan sayuran yang termasuk karbohidrat alami lebih sering ditempatkan sebagai makanan sampingan.

Padahal sekitar 70% bobot tubuh manusia adalah air. Air diperlukan oleh hampir semua fungsi tubuh, antara lain sebagai media pengantar nutrisi ke seluruh tubuh, menjaga keseimbangan enzim di dalam tubuh dan membersihkan sisa makanan serta toksin dari dalam tubuh. Karena itu air sangat vital bagi tubuh manusia.

Setiap hari, tubuh manusia mengeluarkan sejumlah besar aie melalui CO2, urin, feses dan keringat. Supaya keseimbangan kadar air selalu terjaga, air yang terbuang harus selalu diganti dengan yang baru. Buah-buahan dan sayuran segar merupakan satu-satunya kelompok makanan yang memiliki kadar air tinggi, nutrisi dan unsur pembentuk sifat basa sekaligus. Oleh sebab itu, porsi sayuran dan buah segar sebaiknya menempati persentase 60-70% dari seluruh menu satu hari. Sedangkan yang 30-40% dibagi untuk protein, karbohidrat dan lemak menurut proporsi yang sesuai dengan kebutuhan alamiah tubuh. Dengan komposisi demikian, keseimbangan asam basa dalam tubuh akan selalu terjaga.

Pada intinya, teman-teman di grup ini saling bergandengan tangan untuk hijrah ke pola hidup yang lebih baik. Ya memperbaiki pola makan dan olahraga sebagai ikhtiar memperkuat fisik. Jika qodarullah mendapat ujian sakit semua sepakat untuk mencoba herbal seperti sunnah Rasulullah di dalam ilmu thibbun nabawi. Setelah berdiskusi akhirnya kami memutuskan untuk membuat nama keluarga SENIOR KEBAL. Karena cakupan materi seputar kesehatan dan herbal sangatlah luas dan tim perlu diskusi untuk menemukan benang merahnya maka pekan ini tim kami akan diwakili oleh Mba Indri dari Pacitan untuk berbagi seputar keterampilan olahraga renang. MasyaAllah semoga banyak insight yang didapat setelah berbagi nantinya. Bismillahirrahmaniirahim…